Dr. Musthafa Husni As-Siba’i: Jihad adalah Karakternya

Posted: October 4, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,

Dr. Musthafa Husni As-Siba’i: Jihad adalah Karakternya, Musthafa Husni As-Siba’i:remajaislampos—MUNGKIN nggak banyak orang yang kenal ama As-Siba’i but kalo udah kenal ama dia, dijamin pasti terpesona ama kepribadiannya. Ya udah, kenalan yuks ama dia….

From Suriah for the World

As-Siba’i lahir di Himsh, Suriah, taon 1915. Keluarganya terpandang sebagai keluarga ilmuwan. Liat aja, ayah en kakeknya penanggung jawab khutbah di masjid Jami’ (megah, katanya) di Himsh, dari generasi ke generasi (udah kayak iklan aza).

Tau nggak guys, waktu As-Siba’i pengin ngelamar seorang gadis nih, keluarga yang nganterin As-Siba’i ke rumah tuh gadis bilang kalo As-Siba’i tuh orangnya sibuk banget ngurusin dakwah Islam, jadi kemungkinan waktu luangnya dikit buat keluarga. Eh, nggak taunya pihak calon mempelai wanita setuju aja tuh (selamat yah! Lho??!).

Waktu umurnya baru enam belas taon (sama dong ama kita-kita!), dia udah ikutan berpartisipasi ngelawan Prancis yang waktu itu lagi “mampir” di Suriah. Gara-gara mimpin demo, en bagiin selebaran-selebaran, ia ditangkap pada taon 1931 ama Prancis. Trus udah gitu dibebasin, eh ditangkep lagi gara-gara pidato-pidatonya yang dapat membakar dan mengobarkan (weddehhh! Keliatan nggak apinya? Hehe) semangat massa buat ngelawan Prancis!!

Taon 1933, Musthafa As-Siba’i pergi ke Mesir buat kuliah di Al-Azhar. Waktu kuliah inilah, As-Siba’i kenalan ama Hasan Al-Banna en Ikhwanul Muslimin. As-Siba’i ikut ambil bagian ngediriin cabang Ikhwanul Muslimin di Suriah. Taon 1945, As-Siba’i dipilih sebagai Muraqib ‘Am Ikhwanul Muslimin Suriah (kayak kepala cabang, gitu). Pernah nih, ada kejadian yang menarik antara Hasan Al-Banna en As-Siba’i. Jadi, Ikhwanul Muslimin Mesir kan punya surat kabar tuh, namanya Al-Ikhwanul Muslimun, pernah suatu kali surat kabar itu memuat foto Hasan Al-Banna en Musthafa As-Siba’i, trus dikasih komentar di bawah foto itu, “Panglima dan Tentara”. Langsung aja Hasan Al-Banna nulis surat buat pemrednya, komplain soal tulisan itu. Al-Banna bilang, “Jika yang Anda maksud dengan kata panglima ialah Ustadz Musthafa As-Siba’i dan kata tentara ialah hamba Allah yang lemah ini yang setiap hari dan saat menganggap dirinya tentara dakwah kebenaran yang paling kecil, maka berarti Anda memberi predikat sangat baik dan terima kasih saya sampaikan kepada Anda. Jika yang Anda maksud ialah makna yang cepat tertangkap di benak ketika pertama kali membacanya dan mengetahui posisi Mursyid dan Muraqib, maka saya berlindung diri kepada Allah dari apa yang Anda lakukan dan minta maaf kepada Ikhwan atas apa yang Anda tulis. Saya berharap permainan jurnalistik seperti ini tidak menjerumuskan Anda pada ketidaktenteraman jiwa. Saya memohon kepada Allah semoga memberi taufik kepada kita menuju kebaikan, meluruskan langkah kita menuju apa saja yang mengundang kecintaan dan keridhaan-Nya, serta menyatukan hati untuk memperjuangkan kebaikan bagi tanah air tercinta ini.”

Taon 1944, As-Siba’i pergi haji buat yang pertama kalinya.

Taon 1947, ia nerbitin surat kabar Al-Manar, walopun dibredel ama Husni Az-Zaim. Taon yang sama, ia dapat gelar doktoral dalam perundang-undangan Islam dan sejarahnya, disertasinya berjudul As-Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ Al-Islami.

Taon 1948, taonnya Palestina. Yap guys! Di taon itu ada Perang Palestina ngelawan Israel. Balik ke Suriah, As-Siba’i en friends mencoba masukkin materi tarbiyah di kurikulum pendidikan. Ia coba ngebuka Fakultas Syariah di Universitas Syariah taon 1955 en jadi dekan for the first time. Mulai deh ia ngerintis penyusunan ensiklopedia Fiqih Islam yang ngelibatin ulama dari penjuru dunia Islam untuk menyajikan Fiqih

Islam dengan format baru, sunnah, fiqih ulama salaf, en ijtihad ulama kontemporer.

Taon 1949, As-Siba’i terpilih jadi wakil kota Damaskus, padahal dia orang Himsh, lho!

Taon 1950, ia dinobatin jadi guru besar Fakultas Hukum Universitas Suriah.

Taon 1951, ia en friends nuntut kepada pemerintah Suriah agar ngizinin mereka untuk berpartisipasi ama sodara-sodara mereka di Mesir yang lagi perang lawan Inggris di Terusan Suez. Tentu aja, pemerintah Suriah langsung nangkepin Musthafa As-Siba’i en friends terusnya ngebubarin Ikhwanul Muslimin Suriah. Belum lagi perintah pemecatan As-Siba’i dari Universitas Suriah en trus dideportasi ke Libanon.

Taon 1953, ada muktamar umum Islam di Al-Quds, As-Siba’i jadi wakil dari Suriah.

Taon 1954, As-Siba’i hadir di muktamar Islam-Kristen di kota Handun, Libanon, tujuannya buat meng-counter musuh-musuh Islam dari kalangan orientalis en orang-orang Kristen.

Sampe taon 1957, As-Siba’i banyak melakukan perjalanan ke negara-negara Eropa, dari Italia, Inggris, Irlandia, Belgia, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Polandia, Jerman, Swiss, Prancis, en Rusia buat ngeliat kurikulum studi Islam di negara-negara tersebut. Di sinilah, As-Siba’i menyingkap abis kesalahan-kesalahan kaum orientalis, baik secara ilmiah atau historis.

Di taon yang sama, As-Siba’i udah mulai sakit-sakitan. Uniknya, justru di masa-masa sakit ini, As-Siba’i malah produktif. Apalagi, katanya sehari sebelum wafat ia ingin nulis tiga buku yaitu Al-Ulama’ Al-Auliya’, Al-Ulama’ Al-Mujahidun, en Al-Ulama Asy-Syuhada’.

Tujuh taon lamanya fren, Ustadz Musthafa ngelewatin hari-hari bersama penyakitnya, akhirnya hari Sabtu tanggal 3 Oktober 1964, ia meninggal dunia di kota Himsh.

Jenazahnya diiringi rombongan besar orang en disholatin di Masjid Jami’ Al-Umawi, Damaskus.

Ada perkataan yang menarik dari Dr. Husni Huwaidi tentang kondisi As-Siba’i waktu sakit, ia berkata: “Saya melihatnya ketika sakit, bersandar pada tongkat, berjalan di pagi dan sore hari menuju masjid, pada saat orang-orang sehat dan kuat enggan pergi ke masjid. Betapa sedikitnya orang sakit dan lumpuh, namun ia lebih kuat dari pedang terhunus. Kelestariannya dalam jihad, betapapun ia lumpuh, menderita sakit jantung dan hipertensi, tidak lain dalil nyata dan hujjah jelas bahwa karakter orang ini ialah jihad dan tabiatnya perjuangan, nalurinya pengorbanan, fitrahnya keberanian dan patriotisme. Bagaimana mungkin riya’ mendapatkan peluang menyusup ke hatinya, futur menemukan jalan mengusik jiwanya dan keraguan menemukan lorong merusak tekadnya? Maha suci Allah yang memberi karunia kepadanya lalu ia mensedekahkannya dan menimpakan ujian kepadanya lalu menjadikannya ridha pada ujian.” []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s