Syaikh Muhammad Al-Ghazali, The Man Of Dakhwah

Posted: September 29, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,

[Nahnu du’at qobla kulli syai’….kami adalah da’i sebelum segala sesuatu]

Muhammad Al-Ghazali, Al-Ghazali, Syeikhremajaislampos—GUYS, sulit nemuin orang kayak beliau di dunia ini. Gimana nggak, dari julukannya aja ente patut minder dari beliau. Walopun beliau agak emosional, tapi nggak mempengaruhi berbagai karya yang beliau tulis. Yuks, kenalan ama beliau.

22 September 1917 beliau lahir di kampung Naklal Inab, Itay Al-Barud, Buhairah, Mesir. Masa kecilnya penuh nilai-nilai keagamaan hasil didikan keluarganya. Ayahnya aja hafizh Quran, walopun sibuk berdagang juga. Nggak heran, beliau bisa hafal Quran di usia sepuluh taon. Al-Ghazali pindah ke Kairo buat nerusin kuliah di Fakultas Ushuluddin en dapet ijazah taon 1361 H atawa 1943 M. Waktu kuliah ini beliau menikah en dikaruniai sembilan anak. Trusnya, ia ngelanjutin ke Dakwah wal-Irsyad en dapet gelar Magisternya di taon 1362 H.

Aktivitasnya abis kuliah yaitu jadi imam en khatib di Masjid Al-Atabah Al-Khadlra’. Taon 1949 beliau ditangkap en dimasukkin ke penjara Ath-Thur selama satu taon en penjara Tharah taon 1965. Pas dibebasin, beliau jadi dosen tamu di Universitas Ummul Qura, Makkah, taon 1971. Taon 1981-nya, ia ditunjuk jadi Wakil Menteri, en trusnya menjabat sebagai Ketua Dewan Keilmuan Universitas Al-Amir Abdul Qadir Al-Jazaairi Al-Islamiyah di aljazair selama lima taon.

Sekejap bersama tiga Mursyid ‘Aam

Perkenalannya dengan Hasan al-Banna memberi kesan yang dalam buat beliau. Gini nih ceritanya, waktu masih SMU, Al-Ghazali sering mampir di Masjid Abdurrahman bin Harmuz di daerah Ra’sut Tin. Eh, nggak taunya, Hasan Al-Banna pada suatu sore dateng buat ngisi kultum di situ. Waktu itu beliau menguraikan hadits, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik, tentu yang baik akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” Kata-kata Hasan al-Banna itu berkesan banget en langsung menembus ke hati Al-Ghazali. Semenjak itu, Al-Ghazali jadi ngefans ama beliau, eh nggak deng, pokoknya sampe menjelang syahidnya Ustadz Hasan Al-Banna, Al-Ghazali selalu mengiringi aktivitas dakwah beliau.

Tentang Hasan Al-Hudhaibi, Mursyid Aam kedua, beliau bilang kalo dia tuh salut banget ama Ustadz Hasan Al-Hudhaibi coz kesabaran beliau dalam mengarungi musibah yang bertubi-tubi. Walopun usianya saat itu sudah senja, tapi semangatnya buat berdakwah Subhanallah banget, beliau masih optimis ajah. Makanya ujian yang menimpa beliau malah jadi motivasi buat terus berdakwah. Tambahan lagi, beliau juga bilang kalo Ustadz Hasan Al-Hudhaibi tuh nggak pernah berupaya buat memimpin Ikhwanul Muslimin, tapi Ikhwanlah yang minta ia pimpin.

Lain halnya dengan Umar Tilmisani, Mursyid Aam ketiga, Al-Ghazali bilang kalo Umar Tilmisani tuh lelaki istimewa yang digerakkan rasa cinta en kedamaian, benci pertengkaran, kemunafikan, akhlak buruk, mengutamakan uzlah, en merasakan kemesraan tiap kali bermunajat kepada Allah swt.

What People think about him?

Dr. Yusuf Qardhawi dalam pidatonya di Amman, Yordania (kamis, 4 Safar 1417 H atwa 20 Juni 1996) memuji Syaikh Al-Ghazali, bahkan beliau sampe bilang bahwa semua yang beliau katakan pada waktu itu nggak akan pernah bisa cukup menggambarkan karakter Al-Ghazali. I don’t know how I can talk to you about Sheikh al-Ghazaly. How can I summarize half a century in a few minutes? How can I put the sea in a bottle?, gitu kata Yusuf Qardhawi, seorang ulama terkenal yang emang hebat dalam memainkan kata-kata en juga sobatnya Al-Ghazali.

Mungkin aja ucapan Yusuf Qardhawi itu ada benarnya juga. Apa pasal? Yusuf Qardhawi tuh cuma beda sembilan taon ama Al-Ghazali. Dia juga pernah jadi mad’u beliau, tapi suatu ketika Al-Ghazali pernah bilang, “Bertanyalah kepada Yusuf Al-Qaradhawi, karena ia lebih utama dariku. Dulu ia muridku, tapi sekarang aku muridnya.” Tuh kan, Subhanallah. Al-Ghazali tuh bener-bener orang yang tulus deh.

Belum lagi pengalamannya Yusuf Qardhawi waktu pertama kali ketemu ama Syaikh Al-Ghazali, yaitu waktu mereka dalam perjalanan ke penjara Ath-Thur. Di situ, Qardhawi dengar ada orang yang ngomong, “Brothers, you have to be patient, until we reach the place, which is destined to be our place of residence. It is the land from which revelation emerged to liberate a captivated nation, which appeared before Mohammed saw. We are going to the Mountain of Al-Toor.” Tuh, nggak ngerti kan? (sammaa……hehehe). Intinya, saat itulah Qardhawi nanya ke sodaranya, siapa sih yang ngomong barusan, eh nggak taunya tuh Syaikh Al-Ghazali. Semenjak itu, mereka akrab en berjuang di penjara bareng. Soalnya, di penjara yang mereka tempatin itu makanannya pake dikorupsi segala ama penjaganya. Jadilah mereka ngadain demo yang dikomandoi Syaikh Al-Ghazali. Hasilnya, para penghuni penjara dikasih makanan mentah en disuruh masak sendiri, guys! Can you imagine!?!

Kalo kata Ustadz Abdul Aziz Abdullah Salim, “Al-Ghazali ulama terkemuka, dai pembaharu, mujahid tangguh, pejuang yang sangat berani, penulis yang memiliki ruh sastra dan gaya bahasa yang sulit dicari tandingannya.” Ehmmm, diborong semua tuh pujian.

Pulang ke Rahmatullah

Al-Ghazali wafat 9 Maret 1996 di Riyadh, Arab Saudi. Jenazahnya kemudian dipindahin ke Madinah Al-Munawwarah buat dimakamin di Al-Baqi’. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s