Fanatisme Atas Nama Sekolah

Posted: September 29, 2012 in Uncategorized
Tags: , , ,

Fanatisme Atas Nama Sekolah, Cerpen, Cerita, Fanatikremajaislampos—SEBUT saja smk 77. Jangan tanya sekolah mana. Juga nggak usah susah payah nyari lokasi tuh sekolah yang penghuninya mayoritas kelompok anak adam itu. Emang cuma ada di kota saya yang kecil namun tempat segala bahagia. Imbuhan 77 itu bukan nomor sekolah mereka atau identitas resmi. Namanya sendiri lebih keren, diambil dari nama bekas pahlawan nasional yang berasal dari jawa barat. Lantas 77 itu apa dong?

77 adalah singkatan. Maksudnya, tuh sekolah bagi murid-muridnya masuk jam 7 dan pulang juga jam 7. Lha, gimana nih, kapan belajarnya? Afinitias, pledoi, atawa slogan itu amat begitu terkenal di kota saya. Sebenernya bagi saya pribadi nggak masalah mau masuk jam 7, jam 8 atawa jam 12 dan pulang jam 5 atau nggak pulang sekalian!

Namun huruf-huruf tersebut sangat menjadi masalah dan menggang­gu ketika hinggap ‘menempel’ di pagar-pagar rumah, rolling door-rolling door toko, di tembok-tembok, di pintu-pintu, di penutup kios-kios kecil di marka-marka jalan, di papan iklan atau penunjuk jalan. Hingga akhirnya, kayaknya nggak ada ruang kosong yang tersisa di kota.

Sebenernya “ia” nggak sendirian. Selain tuh tulisan, masih ada yang lain: Fugazzi, Gergazi Machine, Balzac, Orgaz dan lainnya. Tetapi di kota, kehadiran “mereka” tidak sesering, seintens, segiat dan semerambah SMK 77.

Saya sendiri sampe saat ini nggak pernah tau, maksud dari pembuat coretan-coretan tersebut. Cuma ada satu pertanyaan yang mengelisik setiap kali melihatnya: benarkah hal ini—coretan-coretan itu—dilakukan, ditorehkan sebagai bentuk fanatisme terhadap almamaternya? Yang jelas, coretan-coretan itu itu telah membuat kota tercinta menjadi amat sangat kotor, muram, kumuh dn bodoh. Toko-toko coreng moreng dan pagar-pagar rumah dibiarkan nggak terurus.

Sebenernya hal ini bukan sengaja dibiarkan begitu saja oleh pe­mi­liknya. Bukannya nggak ada usaha dari si empu­nya tempat untuk membersihkan coretan-coretan nakal tersebut. Karena walopun diber­sihkan, besoknya core­tan-coretan tersebut, dengan bentuknya yang lebih besar lebih “cerya”, pasti akan hadir dan lahir kembali. Dan ini bukan hanya terjadi satu kali atau dua aja. Tapi berlangsung secara spartan, sporadis, terus-menerus, hinnga pemi­liknya bukan hanya merasa bosan, jengkel, dan muak, tapi juga dirugikan. Coba aja bayangin, haruskah dia mencat rumah atawa pagarnya tiap hari? Berapa biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan kalo begitu?

FANATISME boleh-boleh aja sebagai bentuk penunjukkan kepemilikan kita terhadap sesuatu. Namun akan menjadi sangat fatal ketika hal tersebut dilakukan pada hal-hal yang sifatnya negatif. Karena seperti halnya vandalisme atau grafiti (sikap men­corat-coret lingkungan dengan tulisan yang nggak bertanggung jawab), selain merugikan orang lain, juga merugikan diri sendiri. Dan ini sangat nggak sehat. Sejauh yang saya ketahui, aksi ngebom (isitilah bikin “karya” corat-coret) selalu dilakukan pada malam hari dan pada jam-jam sekolah. Waktu dimana anak sekolah seharusnya tengah membuka dan menelaah buku. Inikah bentuk fana­tisme? Inikah tujuan kita belajar?

Saya yakin, juga bukannya nggak ada usaha dan tindakan preventif dari pemerintah. Seperti halnya pemilik toko atau pagar, pemerintah kayaknya udah bosen untuk membereskan aksi tersebut. Karena itu tadi, patah tumbuh hilang berganti. Bersih satu kotor seribu. Bersih hari ini, besok datang lagi. yang menjadikan saya resah selama ini, sepertinya nggak pernah ada tindakan tegas dari pihak sekolah yang bersangkutan untuk mengatasi hal tersebut.

Maka di situ, saya atau siapapun yang ngeliat tuh tulisan jadi berhak bercuriga, jangan-jangan hal ini sengaja dibiarkan agar sekolah tersebut jadi terkenal. Karena secara nggak langsung coretan-coretan tersebut mempromosikan nama yang dituliskan.

Yang lebih menyakitkan, ketika ternyata grafiti menyulut tawuran. Bukan cuma sakit, tapi juga malu sangat, karena ketika di belahan bumi lain, saudara-saudara kita berani ribut, bahkan meregang nyawa karena mempertahankan sesuatu yang prinsipil, haruskah kita sama meng­hentikan hidup karena coretan? Karena ketika coretan tesebut menin­dih coretan yang lain dan emang sengaja ditindihin oleh kedua belah pihak atau lebih, maka penyele­saian akhirnya adalah pertikai­an. Dan bisa jadi kematian. Haruskah nyawa tersia-sia untuk sebuah fanatisme? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s