Buya Hamka

Posted: September 28, 2012 in DID YOU KNOW?
Tags: , ,

Hamka, Pahlawan Indonesia, Pahlawanremajaislampos—KALO Mesir punya Hasan Al-Banna, Indonesia pun punya tokoh pembaharu Islam yang tak kenal henti berdakwah, yaitu Hamka.

Darah Mujahid dalam Dirinya
Lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, pada tanggal 17 Februari 1908, di dalam tubuh Hamka sudah mengalir darah seorang mujahid, yaitu dari ayahnya. Ayahnya adalah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atawa dikenal dengan Haji Rasul. Seorang ulama terkenal pelopor Gerakan Islah (atawa tajdid) di Minangkabau.
Hamka terlahir dengan nama Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Nggak heran, pas naek haji en dapet gelar Haji, dia mulai dikenal dengan HAMKA, akronim dari namanya sendiri.

Hamka pernah mengenyam pendidikan rendah di SD Maninjau sampe Darjah Dua. Waktu Hamka 10 taon, ayahnya ngediriin Sumatra Thawalib di Padang Panjang en di tempat itulah Hamka belajar agama en bahasa Arab. Hamka juga rajin ikut pengajian di mesjid dekat rumahnya. Nggak tanggung-tanggung ulama yang pernah dia ikutin ceramahnya, yaitu Syaikh Ibrahim Musa, Syaikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto, en Ki Bagus Hadikusumo.
Selepas lulus dari sekolah, Hamka bekerja jadi guru agama di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan pada taon 1927 en taon depannya jadi guru agama di Padang Panjang. Sebelumnya, Hamka mulai aktif di Muhammadiyah yaitu sejak taon 1925. Taon 1929 Hamka ngediriin pusat latihan pendakwah Muhammadiyah en pernah juga jadi Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatra Barat taon 1946. Waktu itu ada Kongres Muhammadiyah en dia menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto.
Masih di taon 1920-an, tepatnya taon 1925, Hamka mulai ngelirik (apa dilirik?) sama parpol, yaitu Sarekat Islam.

Pada saat yang sama, Hamka mulai merantau ke banyak tempat, di antaranya Yogyakarta, Pekalongan, sampe ke Mekkah, semuanya buat menuntut ilmu. Nggak heran kalo ayahnya menjuluki Hamka sebagai Si Bujang Jauh.
Hamka membuktikan bakat pejuangnya dengan ikut berorasi menentang Belanda en juga bergerilya di Medan pada taon 1945. Udah gitu, taon 1947 Hamka dilantik jadi Ketua Barisan Pertahanan Nasional Indonesia. Hamka juga jadi anggota konstituante Masyumi en jadi pembicara utama dalam Pemilu 1955.

Cermin Hamka dalam Karya
Dipenjara emang kayak sengsara membawa nikmat. Liat aja, asy-syahid Sayyid Quthb malah bisa nulis Tafsir fii Zhilaalil Quran waktu beliau dipenjara. Kayak nggak mau kalah, Hamka juga berhasil melahirkan karya ilmiah terbesarnya, yaitu Tafsir Al-Azhar waktu dia dipenjara ama rezim Soekarno gara-gara dituduh pro-Malaysia. Emang waktu itu, hubungan Indonesia en Malaysia lagi agak-agak tegang.

Selaen, tafsir Alquran itu, sebelumnya Hamka juga udah menelurkan beberapa karya sastra kayak Tenggelamnya Kapal Van der Wijk yang kesohor sampe Malaysia en Singapura, en juga Di Bawah Lindungan Ka’bah, nggak ketinggalan Merantau ke Deli.

Sebagai bukti eksistensi dirinya dalam bidang akademis, Hamka dua kali dianugerahi gelar Doktor Luar Biasa alias Doktor Honoris Causa sama dua universitas yang berbeda. Pertama, waktu taon 1958 ama Universitas Al-Azhar en kedua, ama Universiti Kebangsaan Malaysia taon 1974. Dari Indonesia sendiri, dia pernah dapet gelar Datuk Indono en Pangeran Wiroguno.

Kepiawaiannya dalam menulis juga nggak lepas dari profesi Hamka sebagai wartawan, penulis, en editor. Pokoknya, pas taon 1920-an itu, Hamka lagi jaya-jayanya aktif di banyak organisasi. Makanya, nggak cuman satu-dua surat kabar yang dijabanin tapi empat koran! Sebut aja kayak Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam en Seruan Muhammadiyah. Nggak termasuk pernah jadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, en Gema Islam.
Selama hidupnya, lebih dari 70 karya udah dia hasilin.

Saat Kembali kepada-Nya
Mujahid nggak kenal henti ini tercatat banyak berkonfrontasi ama pemerintah, termasuk rezim Soekarno en Soeharto. Ketegasan sikapnya nggak pelak pengaruh dari pendidikan yang didapat dari ayahnya. Liat aja, pernah suatu kali Hamka ditanya soal kenapa ayahnya nggak mau melakukan seikere (membungkuk ke arah matahari) waktu zaman Jepang, Hamka cuma ngejawab, “Ayah hanya takut tidak bisa menjawab pertanyaan Munkar Nakir!” Subhanallah. Itulah sebabnya, sampe mati pun Hamka berani menyatakan diri menolak hal apa pun yang melanggar nilai dasar agama, meskipun itu berarti membuka lebar pintu penjara.

Hal ini terbukti waktu pada taon 80-an ketika orang banyak mempersoalkan masalah perayaan natal bersama. Dengan tegas, Hamka yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (atawa MUI, pasti udah pada tau!), mengeluarkan fatwa HARAM kalo ada umat Islam yang ikut tuh perayaan. Kontan aja, pemerintah yang waktu itu lagi getol-getolnya ngobarin toleransi jadi kayak kebakaran jenggot. Walhasil, Hamka diteror, dikecam, disuruh mencabut fatwa itu. Akhirnya apa, Hamka memutuskan untuk meletakkan jabatannya, ia mundur dari MUI pada 21 Mei 1981.
Tanggal 24 Juli 1981, Indonesia en umat muslim se-Asia Tenggara kehilangan salah seorang mujadidnya. Hamka pulang ke rahmatullah tapi warisan pemikirannya tetap bertahan hingga sekarang.

BOX:
1. Sebagai bukti penghargaan yang tinggi dalam bidang keilmuan, Persyarikatan Muhammadiyah mengabdikan namanya menjadi nama perguruan tinggi, yaitu UHAMKA.
2. Kegapean Hamka dalam bahasa Arab en bidang ilmu laen secara otodidak mengantarkannya untuk berkenalan dengan karya-karya pujangga besar di Timur Tengah en Barat, misalnya Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas Al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, Hussain Haikal, Albert Camus, William James, Sigmund Frued, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, en Pierre Loti.
3. Ketika Hamka mendapat gelar Honoris Causa dari Al-Azhar, ia menyampaikan pidato mengenai Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia. Pada taon 1974, saat Universiti Kebangsaan Malaysia memberinya gelar yang sama, Perdana Menteri Malaysia, Tun Abdul Razak berkata bahwa, “Hamka bukan lagi hanya milik bangsa Indonesia tetapi juga telah menjadi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.
4. Meskipun Hamka pernah dijebloskan ke penjara oleh Soekarno tapi ketika Soekarno wafat, Hamka menjadi Imam shalat jenazah Soekarno dan berkata, “Saya sudah memaafkannya. Dibalik segala kesalahannya sebagai manusia, Soekarno itu banyak jasanya.”
5. Ketika perbedaan Soekarno dan Hatta mulai terlihat jelas, situasi politik kian panas. Salah satu dampak sentimen politik adalah berhembusnya angin fitnah kepada Hamka melalui salah satu karyanya yaitu Tenggelamnya Kapal Van der Wijk yang dituduh hasil plagiat dari roman sastrawan Prancis, Alphonse Karr. Golongan yang nggak suka sama adanya pengaruh agama di Indonesia memanfaatkan banget neh polemik buat menghancurkan nama baiknya. Hanya sedikit orang yang ngebela Hamka, di antaranya kelompok budayawan yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan (Manikebu) en H.B. Jassin.
6. Karya-karya Hamka yang terkenal antara lain: Laila Majnun (1932), Di Bawah Lindungan Ka’bah (1936), Tenggelamnya Kapal Van der Wijk (1937), Tasawuf Modern (1939), Islam dan Demokrasi (1946), Revolusi Pikiran (1946), Revolusi Agama (1946), Ekspansi Ideologi, Alghazwul Fikri (1963), en Tafsir Al-Azhar Juz 1—30 (ditulis pada masa beliau dipenjara oleh Soekarno). []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s