Jalaludin Rumi!

Posted: September 25, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,

Pahlawan Islam, Islamremajaislampos—”KUNGIN dadaku terbelah oleh perpisahan agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta Setiap orang yang jauh dari sumbernya Ingin kembali bersatu dengannya seperti semula”.

Terang Benderang
(Jalaludin Rumi – dari buku berjudul Mastnawi Penerbit Mizan)

Siapa yang nggak melting kalo denger atawa baca puisi di atas? Kenal nggak sih puisi siapa? Hhmm, dalam dunia sastra, sering kali kita kecele nyangka kalo Kahlil Gibran itu adalah penyair Islam. Salah besar, bo! Doi tuh ternyata seorang katolik ortodoks! Meet Jalaludin Rumi, sastrawan besar yang sesungguhnya jadi panutan banyak sastrawan dunia sejak jamdul. Kenapa-kenapanya, tentunya nggak lepas dari karyanya yang emang fenomenal. Orang pun nonmuslim pun ngacungin dua jempol untuk karyanya. Rumi lahir pada 30 September 1207 di Balkh, sebuah kota kecil di kota Khurasan, Afghanistan. Jadi September 2006, ia sudah berumur 793 taon gitu lah he he he. Kalo mau diurut-urut, Rumi masih punya darah keturunan Abu Bakar dari ayahnya lho. Sejak kecil, Rumi udah dididik dengan ajaran agama Islam yang kentel. Asal tau aja, walopun begitu, nama Rumi sendiri ternyata diambil dari kata Romawi, yang ketika itu emang bener-bener tengah jadi sentral peradaban dunia.

Saking kerasnya pendidikan yang ia terima dari ayahnya, Rumi nggak pernah mau belajar ilmu selain Quran, hadist, fiqih, tafsir dan filsafat (kalo nggak cukup modal, sifat kayak gini jangan ditiru, jack! Berabe entar kitanya!). nggak heran kalo ia kemudian tumbuh kembang menjadi seorang yang misfit (kaku) dalam pergaulan.

Walo begitu, Rumi remaja adalah seorang pengembara sejati. Untuk memuaskan rasa ingin taunya, ia banyak keliling kota dan banyak penjuru yang udah dijelajahinya. Banyak manusia dan bermacam karakter udah ditemuinya. Dalam perjalanannya mengembara ini, ia pernah bertemu dengan seorang ulama sufi terkenal di Nishafur, Fariduddin Attar. Dalam pertemuan ini, Attar ngasih hadiah pada Rumi, sebuah buku berjudul Asrarname. Selain itu, Attar juga mengatakan sesuatu yang kelak nggak bakalanpernah bisa dilupain oleh Rumi. Attar saat itu berkata, bahwa suatu saat nanti Rumi akan menjadi terkenal. Dan benar saja, kini siapa yang tak mengenal Rumi.

Tapi turning point Rumi terjadi ketika ia bertemu seorang sufi yang bernama Syamsi Tabriz. Tanpa disangka-sangka, di depan hidungnya sendiri, tuh orang cuek aja membuang koleksi buku-buku filsafat punya Rumi ke dalam sumur. “Nih buku cuman bikin pening aja. Rumit dan sangat sulit dipahami. Ngapain ente belajar kayak gini?” ujarnya begitu kira-kira. Kontan hal itu membuat Rumi bengong,.

Kontan aja, Rumi jadi sewot dan marah. Siapa lah yang nggak? Tapi seperti tadi juga, Syamsi masih tenang aja tuh. Tak banyak bicara, ia menarik keluar buku-buku yang tadi dibuangnya ke dalam sumur itu. Ajaib, atas izin Allah, buku-buku itu nggak ada satupun yang basah, cuman selembar-selembar aja sih. Konon, peristiwa inilah yang membuat Rumi memohon untuk berguru pada Syamsi, jack!

Bisa ditebak, karena Rumi murid yang pandai, dan Syamsi guru yang ngemong, hubungan mereka menjadi erat dan lebih dari kayak guru dan murid. Saking deketnya, Rumi yang emang udah punya pengikut sebelumnya, nggak menyadari bahwa para pengikutnya jadi mendengki. Sampe beberapa orang mernecanakan membunuh Tabriz. Bisa ketebak, terjadilah peristiwa itu. Tabriz mati, dan Rumi ngerasa kehilangan seorang figur yang selama ini jadi teladannya.

Yang rugi sih tetep pengikutnya juga. Setelah kejadian itu, Rumi memutuskan diri dengan dunia. Perhatiannya hanya tercurah pada ibadah pada Allah, dan ia pun mulai nulis puisi—salah satu kegiatan yang tadinya nggak begitu disukainya. Dalam pengasingan dirinya, Rumi menuangkan puisi-puisi jiwa yang lahir dari hubungan saat beribadah. Nggak heran kalo membaca puisi Rumi, seakan ktia nemuin sebuah kesejukan tersendiri karena puisinya lahir dari dasar hati. [Indah]

BOKS:
Luasnya  pengaruh Jalaludin Rumi terhadap pikiran dan sastra Barat sekarang ini semakin jelas lewat penelitian  akademis. Nggak disangsikan  lagi bahwa ia mempunyai banyak pengikut di Barat, dan kisah-kisahnya muncul  dalam  cerita-cerita  Hans Cristian Anderson, dalam Gesta Romanorum tahun 1324, dan bahkan dalam karya Shakespeare. Dahsyat kan? Di Timur terdengar pendapat  di  kalangan  luas bahwa  ia mempunyai  hubungan  erat  dengan  kaum  mistik  dan pemikir Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s