Working Class Hero!

Posted: September 22, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,

Working Class Hero, Indonesia, Pekerjaanremajaislampos—SYAHDAN, kalo mau berbisnis, pilihlah Indonesia. Alah, apa nggak salah neh? Tentu saja nggak. Bukankah negara kita ini daya beli rakyatnya rendah banget? Betul juga. Lantas?

Satu-satunya profesi yang paling banyak digeluti oleh kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang ini—selain pengangguran—adalah buruh. Betapa nggak, sampe di kota-kota yang notabene sempit dan adem-ayem aja, udah pasti bakalan ada sebuah pabrik industri. Dan emang, dalam kurun waktu 15 taon belakangan ini, entah udah berapa ribu pabrik yang didirikan di seantero Indonesia—yang celakanya kebanyakan dimiliki oleh orang-orang asing. Mulai dari orang Korea, India, Cina, udah pasti orang-orang Barat. FYI, di Barat tuh ada regulasi nggak semua daerah bisa didirikan pabrik Industri yang “ngadalin” penduduknya dengan asap dan limbah industri yang bikin lingkungan nggak sehat. Nah, di negara kita ini, nggak ada tuh yang namanya begitu. Selain karena emang disebabkan orang-orang kapitalis kejam dan buas, ditambah pemerintah kita juga sangat mata duitan.

So, mulai kepikiran kan kenapa orang-orang asing lebih preferred bikin perusahaan di bumi Nusantara kita. Tapi bukan karena itu yang bikin menjamurnya berbagai perusahaan atawa pabrik di Indonesia. Rahasia yang paling umum dan sangat menggiurkan bagi para cukong bisnis adalah ini: betapa murahnya tenaga buruh di Indonesia.

Berapa murahnya sih? Ehm, sangat murah. Ayo kita ngitung-ngitung. Di Amrik—atawa di negara-negara Barat lainnya—nggak ada yang salah dengan menjadi buruh. Emang secara status sosial, kaum buruh di nagri juga dianggap kelas 2. Tapi secara finansial dan kesehjateraan yang lainnya, nothing’s bad by being a labour. Nggak ada yang salah dengan menjadi buruh. Pasalnya, upah minimum harian mereka pun bener-bener sangat di atas rata (jadi jangan heran, kalo di nagri, para buruh pun punya kendaraan pribadi). Kesehatan mereka sangat-sangat diutamakan dan diperhatikan. Trus, durasi kerja mereka juga sama aja dengan pegawai kantoran, hanya 8 jam dengan istirahat 1 jam ketika makan siang. Nggak boleh ada kerja lembur sampe bahkan satu jam sekalipun—kecuali emang ada perjanjian dan kesepakatan terlebih dahulu. Yang perlu dicatat, hampir sekitar 75% buruh di nagri adalah kaum pria!

Di Indonesia, jelas lah kebalikannya.

Pertama, upah buruh di negeri ini bahkan mungkin nggak layak buat “ngempanin” seekor kuda di nagri sono. Kalo mau tau, paling gede gaji buruh di Indonesia sekitar Rp. 700.000. Bisa mencapai angka Rp. 900.000 dengan tambahan overtime (lebur) yang gila-gilaan—masuk jam 8, pulang jam 9 atawa jam 10 malam. Ding!—gila apa, jack? Kalo misalnya paling banyak aja Rp. 900.000—coba itung berapa satu hari yang bisa didapat oleh seorang buruh untuk upahnya? Sekitar Rp. 30.000 aja—kotor, karena makan dan transport (atau tunjangan kesehatan) udah termasuk di situ. Banyak? Kalo ukuran anak sekolah kayak kamu mungkin iya. Tapi kalo udah berkeluarga? Wadaw, bisa bikin botak sariawan, bro! Dengan penghasilan segini, jangan harap lah punya mobil segala, karena buat makan aja udah nggak kemana-mana.

Kedua, jam kerja yang ampun-ampunan. Masuk jam 08.00 pagi, dan paling nggak pulang pukul 17.00 sore. Cuma yang kayak gini rada susah ditemuin. Biasanya para buruh kita diiming-imingi dengan bonus yang cuma seupil untuk mau kerja sampe pukul 21.00 malam. Itu artinya mereka kerja sampe 12 jam!

Ketiga, buruh di Indonesia ampir bisa dikatakan 90% adalah perempuan. Kenapa lebih banyak golongan Hawa, tentu ente pun udah mafhum. Selain nggak neko-neko, buruh perempuan kan gampang aja kalo bertingkah macem-macem. Pecat aja, man! Nggak bakalan ada gejolak massa.

Ente tau, berapa keuntungan yang bisa didapet oleh para ekspatriat yang bikin usaha di negeri ini? Jumlahnya bukan sedikit, tapi udah bener-bener bisa bikin emporium. Sekadar info aja neh, sebuah topi yang modalnya cuman sekitar Rp. 2000 sampe Rp. 10.000 aja ketika di produksi di Indonesia, dijual di nagri harganya bisa mencapai RP. 150.000 sampe Rp. 200.000! Edan nggak?

Belom lagi ada kejadian begini: misalnya ketika mau Piala Dunia neh entar lagi. Bola yang diproduksi di Majalengka, Jawa Barat itu diproduksi ke nagri. Dari nagri setelah dapet lisensi dan melewati Quality Control di sono, tuh bola diedarin lagi di Indonesia. Harganya yang cuman Rp. 50.000-an, jadi Rp.600.000-an!

Siapa yang salah? Nggak mungkin menyalahkan rakyat yang jadi buruh, karena kayaknya sebagus apapun posisinya di pabrik, nggak ada buruh yang enak di negri ini. Juga selain karena mereka sendiri nggak punya pilihan lain. Yang jelas-jelas patut dituding, siapa lagi kalo bukan yang bikin regulasi kalo orang-orang asing boleh bikin perusahaan di Indonesia dan kebijakannya cuman ngenyangin perut gendut mereka doang!!!! Pal! []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s