Playboy Tengil!

Posted: September 20, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,

Playboy, Playboy Tengil, Tengil, Cowo Tengilremajaislampos—Pernahkah kamu ngebayangin sebenernya berapa parah sih kerusakan yang ada di muka bumi Indonesia? Mungkin kita bisa berkata, “Nyantai ajalah. Kita masih belom kayak Argentina yang udah bobrok ahlaqnya, bobrok pula ekonomi dan rakyatnya!” atau whateverlah ngomongin negara mana lagi. Apologi yang lain, kita masih punya banyak masjid, masih ada ulama, masih ada pejabat yang sholeh dan sebagainya.

Tapi ternyata, emang negara kita ini nggak separah itu. Hanya lebih parah daripada itu. Ada apa emangnya? Kasus yang terbaru dan terhangat adalah akan munculnya majalah porno internasional yang berbahasa Indonesia: playboy! Alah, bukannya media porno emang udah biasa aja di Indonesia? Persoalannya bukan begitu, Sodara-sodara.

Saat ini, nih majalah yang dipelopori ama Roy Murdoch di Amrik sana beredar di sekitar 50 negara. Bukan sembarang beredar begitu aja karena dilindungi ama negara. Kok bisa? Bisa, karena melalui jalur hukum yang sah. Ibaratnya Palyboy bukanlah sejenis media porno yang dijual di pinggir jalan seharga Rp. 2500 yang bisa kena razia polisi yang sebenernya nggak pernah punya niatan ngerazia. Artinya playboy mendapat lisensi pemerintah secara legal, hingga yang jualan atawa yang bikin tuh majalah nggak bakalan ceritanya dikejar-kejar ama pihak yang berwajib (kalo di Indonesia masih ada yang wajib ngejar!)—karena itu tadi, dilindungi kesaktian yang bernama hukum.

Sebenernya Playboy Indonesia yang katanya bakalan diterbitin Maret nanti bukan majalah franchise yang pertama. Ada Rolling Stone, Men’s Health, Kosmopolitan, MTV Trax, dan lain sebagainya yang kalo dijumlah sekarang udah mencapai lebih 50-an (banyak kan?).

Masalah utama yang musti menjadi perhatian dari kita adalah majalah-majalah semok-semok itu bukan terletak pada sisi pornografinya. Kalo dibandingin dengan media porno “hard core” yang seharga Rp. 2000-an itu emang masih belom ada apa-apanya. Seenggak-enggaknya walopun masih “telanjang” tapi nggak jorok banget—yang walopun baru segitu kita udah benci banget.

Nah Prens, tuh majalah-majalah jelas-jelas membawa sebuah perubahan gaya berpikir. Memberi penghargaan nilai pada gimana kita memandang sebuah persoalan. Dan jika udah begitu, jika kita udah ngeliat sebuah persoalan dari sudut tertentu, jangan heran aja kalo itu pun mempengaruhi gaya hidup kita. Mempengaruhi tradisi dan budaya pada saatnya nanti. Muatan pornonya aja udah sedemikian gawatnya, nah ini apalagi dengan membawa pesan-pesan perubahan itu.

Artinya? Orang-orang yang nenteng tuh majalah bukan lagi sopir-sopir angkot atawa tukang ojek yang masih rada malu-malu juga kalo ketaon lagi baca media kayak gituan. Yang beli Playboy adalah orang-orang kaya yang jelas-jelas berduit dan membelinya sekadar sebuah penunjukan status sosial. Dengan membawa sebuah majalah Playboy, seolah-olah ada yang mengatakan dalam diri mereka, “Ini lho gue, keren kan?”.

Jelas, apa dong yang bisa kita perbuat sekarang? Masih ada waktu. Kalo kita diem aja, niscaya kita punya andil besar pada penerbitan media cabul tiada berkah itu. Dan terkutuklah kita kalo nggak sedikitpun nggak melakukan apa-apa, cuman bisa mencibir doang, “Hahh, ngapain sih?”. Kalo bener kejadian, sekarang, siapapun—orang kaya dan miskin pun—punya majalah pornonya sendiri-sendiri!

“Dan sekiranya penduduk negeri berimandan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepad amereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (Alaraf: 96) []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s