KEBAIKAN TAK BERBATAS

Posted: September 20, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,

Kebaikan Tak Berbatas, Kebaikan, Baikremajaislampos—Ini kejadian saya alami pas bulan Ramadhan  kemaren, yang baru lewat itu. Pagi-pagi  sekali sehabis salat Subuh, saya di-SMS supaya segera ke sekolah karena sanlat tiba-tiba aja dimajuin waktunya. Sebagai ketua panitia, saya otomatis musti segera ke lokasi untuk ngatur ini-itunya.

Nggak pakai ba-bi-bu lagi, segera aja saya menerobos Subuh yang dingin, dengan menahan kantuk yang luar biasa. Tau sendirikan kalo pas bulan Puasa itu, sehabis Subuh kita biasanya tepar, pengen berbaring barang sekejapan, supaya tubuh siap unutk dipake beraktivitas siang harinya.

Secara saya sekolah di luar kota, nggak terlalu jauh sih, cuma tetep aja musti pake bus AKAP (Antar Kota Antar Provinsi), maka saya musti ke halte dulu dan selalu berangkat lebih pagi—biasanya kalo nggak ada halangan, jarak dari rumah ke sekolah memakan waktu  sekitar 1,5 jam. Sambil nunggu bus, saya tilawah. Sayang kalo waktu terbuang percuma begitu aja.

Setelah kira-kira lima menit, bus pun datang. Waktu itu, sumpah, saya nggak ngecek “keabsahan” si bus ini, karena kayaknya nggak ada yang aneh sih. Dalam bis, saya tilawah lagi. Cuma, baru aja dapet sekitar 2 halaman, saya udah terlelap lagi. Ditambah lagi bus emang ber-AC hingga makin bikin syahdu aja.

Ketika kayaknya udah ngerasa tidur rada lamaan, mungkin sekitar setengah jam deh, saya bangun karena dikejutin, bus berhenti dan semua penumpang turun. Di antara ambang kantuk yang masih menyerang, saya segera sadar, dude, ternyata bus yang saya tumpangi adalah bus angkutan karyawan. Kelak saya bakalan tau kalo ternyata bus yang biasa saya tumpangi ini, sebelum jam 06 pagi biasa dipake sebagai jemputan karyawan sebuah pabrik.

Dan ketika kesadaran sudah pulih sepenuhnya, saya tersentak kaget: I was in the middle of nowhere! Pabrik itu ternyata terletak jauh di perbatasan. Bayangin, nggak ada kendaraan lain yang secara reguler lewat situ, kecuali milik pribadi. Tetapi hey, siapa gerangan  kiranya yang bakalan “iseng” tiba-tiba ada di situ? Kalo mau nunggu bus pabrik itu lagi, kira-kira mungkin tengah hari atau mungkin lebih buruk lagi, entar malamnya.

Jadilah saya duduk bengong di bawah sebuah pohon. Bingung memikirkan bagaimana cara untuk kembali jalan yang benar. Emang ada juga ojek satu dua berseliweran, tapi ongkosnya, halah, mencapai angka 30 rebu-an perak. Males nggak sih? Lagian uang yang ada di kantor cuman ada setengahnya dari itu.

Tiba-tiba aja, entah darimana datangnya, sebuah motor berhenti di depan saya. Pengendaranya membuka helm dan bertanya, “Mau ikut ke depan?”

Tanpa nanya-naya lagi, saya langsung aja naek. Ya Allah, seketika bersyukur. Dalam perjalanan itu saya ngobrol, dan menceritakan sejarahnya kenapa saya bisa terdampar di negeri entah-berentah itu. Si mas itu ternyata baru aja nganter istrinya yang kerja di pabrik tersebut. Anyway, whatever the matter is I was saved!

Kejadian itu sungguh membuka mata hati saya. Memberikan suatu ibroh atawa pelajaran yang luar biasa berharganya.

Selama ini, jujur saja, di dunia dan kekinian kita, kita selalu aja dihadapkan dengan wajah-wajah dan kondisi yang tak ramah. Dunia yang kejam. Walo nggak sepenuhnya benar, tapi sering juga terjadi. Misalnya aja kalo laig pake motor, di jalanan nggak sedikit yang selalu bisabikin kita mengumpat. Mulai dari polisi yang kadang-kadang maksain diri nyari-nyari kesalahan kita, sampe para pengendaran motor lain yang cuek banget dengan cara nyetirnya, nggak peduli dengan keberadaan dan keselamatan orang lain.

Di sekolah, kadang juga sama. Jujur aja, ada momen-monen tertentu kita ngerasain kalo temen-temen kita suka jahat bener. Nyalip di tikungan dalam uursan soal belajar, ngejilat ke guru, sampe secara pribadi yang nggak bisa disebutin satu-per satu di sini.

Nah, kejadian pagi itu menyadarkan pada saya, bahwa di jaman kayak sekarang yang nilai-nilai kebaikan sudah begitu tipisnya, orang itu ngasih tau bahwa masih ada yang namanya kebaikan itu, walopun kecil. Kebaikan yang nggak didasari pamrih.

Saya jadi semakin terbuka. Waktu ke Jakarta beberapa waktu yang lalu, ketika menanyakan alamat, orang-orang yang saya tanyain ternyata beneran baik. Mereka, mulai dari tukang ojek,  tukang dagang dan para preman, mau menunjukan jalan. Lantas, saya jadi berpikir, dunia ini emang masih ada orang-orang yang baik sama kita tanpa mengenal kita. Mereka tidak pernah mengharapkan pamrih.

Malah kita sering kali dibikin jatuh dengan kelakuan orang-orang yang kita kenal. Kenapa dia yang kita kenal dengan baik, kok tega-teganya melakukan hal itu kepada kita? Bener kan?

Sobat, pelajaran lain yang saya dapatkan adalah bahwa ketika kita melakukan kebaikan, jangan pernah berbatas. Jangan pernah memandang kebaikan kita sekecil apapun, kepada siapapun. Karena kita yakin, dalam bentuknya yang lain, walopun jangna pernah mengharapkan, kebaikan itu akan kembali lagi kepada kita. Suatu hari nanti. Kalo nggak sekarang, pasti kelak di kehidupan yang lain. Karena Allah tak akan pernah salah menghitung! []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s