Pelarian Berujung Sesal

Posted: September 13, 2012 in CERPEN
Tags: , , ,

Kesendirian, Pelarian yang berujung penyesalan, Penyesalan, Everythingremajaislampos—Alkisah, saya baru saja lepas dari sebuah pengalaman yang sangat bodoh, namun terus-terang saja sangat berharga, dan rasanya akan menjadi pelajaran yang paling saya ingat sepanjang hidup saya.

Kejadian awalnya sebenernya dimulai sekitar setahun yang lalu, ketika saya mulai ikut pengajian. Tiba-tiba saja saya mulai merasakan begitu banyak sisi kejam (dan mungkin kelam) dari kehidupan yang saya miliki. Betapa tidak, entah karena apa, saya merasa bahwa dua sahabat saya yang paling dekat dengan saya, begitu saja meninggalkan saya. Padahal kami bertiga sudah berteman sejak masih SMP kelas 1.

Palu godam itu tiba-tiba menghantam. Saya tak pernah tahu alasannya sampai sekarang, tapi tiba-tiba aja mereka begitu aja menghentikan segala kontak dengan saya. Awalnya memang secara halus, tapi kemudian isyaratnya makin jelas; mereka tak mau lagi berteman dekat dengan saya. Mungkin, perpisahan jika dikarenakan lulus dan masing-masing harus terbang ke tempat lain akan jadi lebih berarti dibandingkan dengan perpisahan yang saya rasakan ketika itu. Saya liat, mereka berdua masih terus menjalin hubungan.

Okelah, mungkin saya pernah melakukan suatu kesalahan. Tapi alangkah menyakitkannya jika kau tak pernah diberi kesempatan untuk mengetahui kesalahan jenis apa yang telah kaulakukan, bukan begitu bukan? Singkat cerita, betapa hancurnya saya. Lagipula siapa yang kuat untuk melihat mereka berdua bertingkah laku di depan mata kepala sendiri?

Dan kejadian itu sungguh menjadi sebuah trigger, yang mengubah cara pandang saya dalam banyak hal. Sedikit demi sedikit, dengan sangat terkonsep saya mulai menarik mundur dari segala bentuk jenis persinggungan dengan orang lain. Saya mulai membiasakan diri untuk nggak pernah ngerasa mempunyai keuntungan terhadap orang lain. Artinya, saya mencoba bersikap datar-datar aja terhadap siapapun.

Apa berhasil? Setelah beberapa bulan, totally, ya. Benar-benar sangat membantu proses recovery saya yang berdarah-darah. Terhadap siapapun saya ngerasa nggak punya kepentingan orang lain, dan vice versa (begitu juga sebaliknya) orang pun nggak ngerasa punya kepentingan apapun terhadap saya. Wal hasil, semuanya berasa sama aja, nggak ada rasanya. Misalnya aja, saya nggak pernah sakit hati lagi. Saya nggak pernah tersinggung. Saya nggak pernah marah. Saya nggak ngerasa bahagia manakala ada orang lain atau seorang temen yang saya kenal mendapatkan sebuah kebaikan. Saya juga nggak ngerasa harus bersedih ketika misalnya ada kerabat seorang temen yang meninggal dunia. Sekali lagi, semuanya nggak memberikan perbedaan bagi saya.

Selama beberapa bulan—kurang lebih saya hidup dengan cara seperti itu. Tak ada yang serius, namun juga tak ada yang main-main. Dan saya ngerasa baik-baik aja dengan kondisi itu. So, dengan demikian, walo saya dengan mati-matian menolak dikatakan apatis, kenyataannya memang saya seperti itu. Ketika itu, jangankan peduli dengan urusan yang mungkin sedang terjadi di Palestina atawa di mana gitu, di sekeliling pun saya hanya berjalan lurus saja. Paling yang masih menarik perhatian saya adalah keluarga sendiri.

Dan keuntungan terbesar yang saya dapatkan dari sikap seperti itu adalah saya nggak pernah lagi ngerasa sakit atawa terluka.

Tapi ternyata, pada suatu titik ketika saya bener-bener tengah menikmati puncak dari sikap datar itu, saya malah harus mengalami peristiwa yang bener-bener membikin saya berada di bumi lagi (he he he). Kejadiannya hanya sepele aja. Bahkan sama sekali di luar perhitungan saya—karena jelas, dengan mengambil sikap bersosialisasi yang bener-bener superdefensif tersebut, saya udah banyak mengalkulasi apa saja gerangan yang bisa mereduksinya.

Suatu kali sepulang dari sekolah, saya mampir ke sebuah kios yang menjual es jeruk. Hari sangat panas, jadi jelaslah minum es jeruk bakalan membuat kerongkongan seger. Ketika tengah duduk mengaso mendinginkan kepala dan pikiran, seorang ibu dengan dua orang anak, yang paling besar  berumur sekitar empat tahun, dan yang satunya lagi masih kecil dalam gendongan, masuk dan duduk tepat di samping saya.

Wajah si anak yang paling besar, cemberut. Sementara di tangannya banyak sekali makanan yang bermacam-macam. Sambil memesan es jeruk, si ibu terus saja ngomong sama si anak, “Kalo Kakak nggak mau ngasih orang lain, nanti Kakak bakalan sendirian. Nggak ada temen. Kakak boleh punya banyak makanan, tapi Kakak nggak punya temen.”

Si anak, setelah diam sejenak, menjawab masih dengan wajah yang cemberut, “Ah, kemarin Nisa aja punya makanan, aku nggak dikasih.”

“Lho itu kan Nisa. Kakak kan nggak bukan Nisa. Kalo Kakak juga nggak mau berbagi, ngasih sama orang lain, apa bedanya Kakak sama Nisa? Sama dong?”

Percakapan ibu-anak itu, das!, begitu aja membuat saya lemes dan tertunduk, dan ngerasa terpukul berat. Entah apa hubungan dan pentingnya dengan sikap saya selama ini, tapi percakapan itu bener-bener mmebuat saya tiba-tiba sadar, saya udah melakukan kesalahan besar.

Malamnya, saya tiba-tiba ingin sekali menelepon kedua sahabat saya dulu. Satu per satu saya mencoba menghubungi mereka. Sikap keduanya masih sama, nggak berubah, masih sinis dan dingin. Tapi saya nggak lagi ngerasa jatuh mental. Tapi saya kembali ngerasain sakit hati, walo nggak terlalu. Tapi bagi saya, setelah berbulan-bulan saya berada dalam posisi yang datar tak merasakan apapun, rasa sakit begitu saya hayati.

Tengah malam, saya keluar rumah, memandangi langit hitam. Ternyata, dalam hidup kita memang akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Tapi manakala pilihan itu menyudutkan kita dalam keadaan yang paling meruntuhkan dan menyakitkan, nggak selayaknya kita meninggalkan hiruk-pikuk dunia. Rasa sakit itu ternyata menjadi proses pembelajaraan bagi kita untuk jadi seseorang yang lebih baik lagi.

Sekarang, saya tengah mencoba memulai untuk membangun sandaran-sandaran yang lain. Biarlah saya kehilangan dua orang yang pernah jadi sahabat itu. Tapi ternyata, masih ada beberapa orang lain yang sesungguhnya bisa jadi teman sejati kita. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s