Memaknai Kegagalan

Posted: September 13, 2012 in PSYCO-CORNER
Tags: , , ,

Memaknai Kegagalan, Gagal, Kegagalan, Don't Give Up, Jangan Takut Gagal“Every adversity, every unpleasant circumstance, every failure, and every physical pain carries with it the seed of an equivalent benefit”.  (Ralp Waldo Emerson)

remajaislampos—NAH lho, ngerti nggak sih kalimat  di atas? Maksudnya, dalam hidup ini kita kan nggak bsia selalu mengharapkan bahwa kita bakalan sukses terus. Ada kalanya kita bakalan berada di bawah. Kadang kala pula kita nemuin kegagalan dalam usaha dn perjalanan kita sehari-hari. Cuma emang, nggak banyak juga dari kita yang bisa ngeliat kegagalan itu sebagai sesuatu yang positif. Hah, emang bisa?

Dudes, hampir semua orang sukses yang bener-bener berdiri pada kaki mereka sendiri, seengak-enggaknya pernah ngalamin kegagalan. Abraham Lincoln baru mencapai cita-cita politiknya pada usia 52 tahun;  Soichiro Honda yang sampai cacat tangannya gara-gara ngedesain piston; atau Werner Von Braun penemu roket yang menyebut angka kegagalan 65.121 kali!   AMROP International, perusahaan pencari eksekutif senior yang berkantor di 78 negara di dunia termasuk Indonesia, pernah geluarin catatan tentang fluktuasi emosi pencari kerja dari sejak di-PHK sampai menemukan pekerjaan baru. Dihitung, fluktuasi naik-turun itu terjadi sebanyak   26 kali dengan asumsi waktu minimal enam bulan. Trus dalams ejarah Islam, bukankah Rasulullah juga gagal dulu ngebujuk pamannya yang sangat luar biasa untuk masuk Islam?

Sebenernya sih kegagalan adalah peristiwa potensial yang bersifat netral, ‘hidden potential events’ yang nggak memiliki makna tertentu kecuali setelah diberi pemaknaan oleh kita: nasib, takdir, siksaan, cobaan, tantangan atau pelajaran. Nah, liat dari sini aja kita tau bahwa kegagalan—sama kayak peristiwa yang lainnya—selalu berpulang kepada diri kita sendiri pada akhinya.

Nah, berikut ini ada sedikit langkah yang bsia kita renungi untuk memahami kegagalan yang udah kita lakukan.

Membiarkan

Sebenenrya inia adalah usaha yang paling rendah. Artinya kita cuma bsia memaafkan dan menempatkan kegagalan dalam wilayah hidup yang nggak  tersentuh oleh upaya diri kita  dengan meyakini titah takdir atau nasib. He he he…. Namnaya juga paling rendah gitu lah…

Menolak

Model penyikapan kedua adalah menolak kegagalan. Yah bisa dengan nyalahin orang lain, diri sendiri atau faktor lainnya lah. Cuma hati-hati, jangan sampe kita nyalahain Yang Di atas, Yang Mahakuasa.  Inget lho, ini emang klise, tapi kegagalan emang keberhasilan yang tertunda.

Menerima

Ini model sikapan yang paling ideal.  Di sini kita menganggap kegagalan sebagai materi tarbiyah (pembelajaran)diri atau kurikulum pendidikan terhadap sebuah situasi. Tentu aja bukan berarti bahwa semakin banyak kegagalan semakin bagus tetapi yang ingin difokuskan adalah bagaimana kita nempatin kegagalan sebagai proses yang menyertai kita. [Ummu Haura]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s