JADWAL SALAT: Gimana sih nentuinnya?

Posted: September 10, 2012 in Uncategorized
Tags: , ,

Jadwal Sholat, Nentuin Waktu Sholat.remajaislampos—Kita semua juga udah tau kalo udah dari sono-sononya kita sebagai orang muslim musti salat wajib sehari semalam tuh lima kali. Waktunya pun udah ditentuin dengan jelas: isya, subuh, dhuhur, ashar ama maghrib. Tapi sebenernya gimana yak caranya nentuin dengan pas dan tepat jadwal salat selama ini—secara kita tau misalnya kalo bulan ini ashar jam 15 lebih 10, dan bulan nantinya bisa aja lebih atua kurang dari itu?

Dalam nentuin jadwal salat, data astronomi terpenting adalah posisi matahari dalam koordinat horizon, terutama ketinggian atau jarak zenit. Fenomena yang dicari kaitannya dengan posisi matahari adalah fajar (morning twilight), terbit, melintasi meridian, terbenam, dan senja (evening twilight). Dalam hal ini astronomi berperan menafsirkan fenomena yang disebutkan dalam dalil agama (Alquran dan hadits Nabi) menjadi posisi matahari. Sebenernya penafsiran ini belum seragam gitu lah. But, karena masyarakat udah sepakat menerima data astronomi sebagai acuan, kriterianya jadi relatif mudah disatuin.

Di dalam hadits udah disebutin bahwa waktu subuh adalah sejak terbit fajar shidiq (sebenernya) sampai terbitnya matahari. Di dalam Al-Quran secara nggak langsung disebutkan juga sejak meredupnya bintang-bintang (Q.S. 50:40). Maka secara astronomi fajar shidiq dipahami sebagai awal astronomical twilight (fajar astronomi), mulai munculnya cahaya di ufuk timur menjelang terbit matahari pada saat matahari berada pada kira-kira 18 derajat di bawah horizon (jarak zenit z = 108o). Saaduddin Djambek mengambil pendapat bahwa fajar shidiq bila z = 110o, yang juga digunakan oleh Badan Hisab dan Ru’yat Departemen Agama RI. Fajar shidiq itu disebabkan oleh hamburan cahaya matahari di atmosfer atas. Ini berbeda dengan apa yang disebut fajar kidzib (semu)—dalam istilah astronomi disebut cahaya zodiak—yang disebabin oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet.

Subuh, selesai. Lnajut ama dhuhur. Waktu dzhuhur adalah sejak matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit sesudah tengah hari. Untuk keperluan praktisnya she jack, waktu tengah hari cukup diambil waktu tengah antara matahari terbit dan terbenam.

Dalam penentuan waktu ashar, nggak ada kesepakatan karena fenomena yang dijadikan dasar pun rada nggak jelas neh. Dasar yang disebutkan di dalam hadits, Nabi saw diajak shalat asar oleh malaikat Jibril ketika panjang bayangan sama dengan tinggi benda sebenernya dan pada keesokan harinya Nabi diajak pada saat panjang bayangan dua kali tinggi benda sebenernya. Walaupun dari dalil itu dapat disimpulkan bahwa awal waktu ashar adalah sejak bayangan sama dengan tinggi benda sebenarnya, ini menimbulkan beberapa penafsiran karena fenomena seperti itu nggak bisa digeneralilasi sebab pada musim dingin di beberapa negaara hal itu bisa dicapai pada waktu dhuhur, bahkan mungkin nggak pernah terjadi karena bayangan selalu lebih panjang daripada tongkatnya. Ada yang berpendapat tanda masuk waktu ashar bila bayang-bayang tongkat panjangnya sama dengan panjang bayangan waktu tengah hari ditambah satu kali panjang tongkat sebenernya dan pendapat lain menyatakan musti ditambah dua kali panjang tongkat sebenernya. Pendapat yang memperhitungkan panjang bayangan pada waktu dzhuhur atau mengambil dasar tambahannya dua kali panjang tongkat (di beberapa negara Eropa) dimaksudkan untuk mengatasi masalah panjang bayangan pada musim dingin. Badan Hisab dan Ru’yat Departemen Agama RI menggunakan rumusan: panjang bayangan waktu ashar = bayangan waktu dzhuhur + tinggi bendanya; tan(za) = tan(zd) + 1. Nah makna hadits itu dapat dipahami sebagai waktu pertengahan antara dhuhur dan maghrib, tanpa perlu memperhitungkan jarak zenit matahari. Hal ini diperkuat dengan ungkapan ‘salat pertengahan’ dalam Alqur’an S. 2:238 yang ditafsirkan oleh banyak mufassir sebagai salat ashar. Nah, kalo pendapat ini yang digunakan, waktu salat ashar bakalan lebih cepat sekitar 10 menit dari jadwal salat yang dibuat Departemen Agama.

Waktu maghrib berarti saat terbenamnya matahari. Matahari terbit atau berbenam didefinisikan secara astronomi bila jarak zenith z = 90o50′ (the Astronomical almanac) atau z = 91o bila memasukkan koreksi kerendahan ufuk akibat ketinggian pengamat 30 meter dari permukaan tanah. Untuk penentuan waktu salat maghrib, saat matahari terbenam biasanya ditambah 2 menit karena ada larangan melakukan salat tepat saat matahari terbit, terbenam, atau kulminasi atas.

Tinggal satu salat lagi neh. Waktu isya ditandai dengan mulai memudarnya cahaya merah di ufuk barat, yaitu tanda masuknya gelap malam (Al-Qur’an S. 17:78). Dalam astronomi itu dikenal sebagai akhir senja astronomi (astronomical twilight) bila jarak zenit matahari z = 108o).

Posisi matahari udah dapat diformulasikan dalam algoritma sederhana dengan kecermatan plus-minus 2 menit untuk daerah lintang antara 65 derajat LU dan 65 derajat LS. Algoritma itu udah saya ubah menjadi program komputer sederhana penentuan jadwal salat. Untuk daerah dengan lintang lebih dari 48 derajat pada musim panas senja dan fajar bersambung (continous twilight) sehingga dalam program itu waktu isya dan shubuh diqiyaskan (disamakan) pada waktu normal sebelumnya.

Udah semuanya? Hah, lega… hhhh. [Indah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s