Be The Real Champion

Posted: September 9, 2012 in Uncategorized
Tags: , , ,

Be The Real Champion, The Champion, The Winner, Menjadi Pemenangremajaislampos—INI kisah tentang perlombaan balap mobil-mobilan. Tamiya. Seorang anak ikut—dengan mobil balap kecil hasil rakitannya sendiri. Dibandingkan dengan para peserta lain, mobilnya jelas kalah jauh dari segi kualitas. Warnanya sederhana, kalau tidak mau dikatakan hanya hitam-putih saja. Tongkrongannya pun amat tidak meyakinkan—seadanya dan mungkin kuno sekali. Apalagi, mobil tamiya para peserta lain kebanyakan buatan luar negeri. Kalau tidak Jepang, atau Cina ya Amerika. Anak-anak peserta lainnya tidak sedikit yang mencemooh mobil si anak tadi. “mobil kayak gitu masih juga dipake?” banyak orang yang memperkirakan bahwa keikutsertaan si anak cuma jadi pelengkap derita dan hiburan saja.

Ketika beberapa adetik perlombaan akan segera di mulai, tiba-tiba si anak mengacungkan tangannya. Panitia bertanya kenapa. “Mohon beri waktu saya untuk berdoa…” jawab si anak. Panitia saling berpandangan, namun kemudian mempersilakan si anak untuk melakukan doa. Si anak berdoa beberapa saat, suasana sejenak hening. Dan setelah itu, perlombaan pun segera dimulai.

Panitia mengangkat bendera start dan semua mobil tamiya melesat. Lintasan demi lintasan terlewati. Tanpa diduga tanpa dinyana, mobil tamiya  si anak kecil melesat jauh meninggalkan lawan-lawannya. Di akhir track, bisa ditebak siapa yang jadi pemenangnya: mobil butut kepunyaan anak kecil itu.

Saat pembagian hadiah, si anak dipanggil ke atas panggung. Ketika hendak menyerahkan hadiah, seorang panita berujar, “Hai jawara, ini hadiahmu. Engkau pantas menang, karena doamu ternyata manjur. Engkau pasti meminta kepada Tuhan agar engkau bisa memenangkan pertandingan ini ya?”

Sambil menerima hadiahnya, si anak yang belum lagi berumur sepuluh tahun berujar, “Tidak. Saya tadi hanya berdoa kepada Tuhan seperti ini. Saya tidak minta jadi pemenang, tapi ya Allah, berilah saya kesiapan dan kekuatan jika saya harus kalah.”

Semua hadirin terdiam mendengar jawaban si anak kecil. Mereka tidak menyangka jawaban si jawara demikian rupa.

Dalam menjalani kehidupan ini, kita seringkali memosisikan diri kita hanya pada satu sisi saja. Padahal sunatullah—ketentuannya—sepanjang kita masih hidup, akan selalu ada pada dua tempat atau pilihan yang harus kita pilih salah satunya. Kalau tidak X, ya Y. Kalau tidak hitam, ya putih. Kalau tidak benar, ya pastinya salah. Dan kita tidak bisa berdiri atau memilih di tengah-tengahnya.

Nah, kebanyakan kita ini, jujur saja selalu mempersiapkan diri hanya menerima satu bagian saja; kita selalu berharap yang baik-baik saja. Yang indah-indah. Yang asyik-asyik. Kita jarang mempersiapkan diri untuk menerima hal-hal yang kelabu, yang abu-abu, atau hal-hal yang bikin hati tidak enak. Padahal kans dan peluang kita untuk mengalami dan menghadapi hal yang tidak baik dan tidak indah juga selalu ada dan mungkin juga porsinya sama besar.

Mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang tidak kita harapkan sangat perlu. Dalam dan untuk keperluan apapun. Penting, sebab ketika kita mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita bisa kecewa dan sakit. Jika sudah sakit dan kecewa, efeknya, ujung-ujungnya kita akan banyak menyalahkan. Baik terhadap orang lain, atau yang lebih ekstrem adalah pada Allah swt. Padahal  ketika kita mengalami hal-hal yang tidak enak, hal yang membikin hidup kita berat dan tidak indah, selalu ada hikmah dan maknsa yang bisa kita dapatkan. Memang sih, idealnya kita mempunyai rencana dan Allah juga punya kehendak. Nah, semoga saja rencana kita dan kehendak Allah bisa bertemu dan sejalan. Cuma jangan terlalu berharap.

Kita tentu tidak cuma hanya mempersoalkan bagaimana menjadi pemenang, atau bagaimana menghindari menjadi pecundang. Dari proses yang kita jalani saja kita sudah bisa mengukur diri, hendak jadi pemenang ataukah pecundang. Itu—jawabannya—hanya kita yang saja yang tahu.

Maka seperti doa anak di atas, semestinya yang kita lakukan dalam berdoa adalah bukan untuk mencari menang, tapi bagaimana menjadi pemenang yang menang. Walau bagaimanapun, menjadi pemenang dengan cara bersih dan terhormat lebih membanggakan dan bisa dipertanggungjawabkan.  []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s