Belajar Dari Abu

Posted: September 5, 2012 in SHOUT UR MIND!
Tags: , , ,

Belajar, Belajar Dari Abu, Mari Kita Belajar! , Ayo Belajar!remajaislampos—NAMANYA Ahmad Bukhori. Biasa disingkat Abu. Usianya dengan kami cuma terpaut beberapa bulan. Ia adalah kakak kelas kami. Tapi walo begitu, kami akrab sekali dengan beliau. Saking akrabnya, dalam beberapa hal bahkan kami sering menganggapnya sama saja dengan kami. Bercanda dan saling nyela—dalam arti nyela yang nggak kelewatan dan masih dalam taraf yang nggak sampe nyinggung perasaan atawa harga diri. Pun kami terbiasa main bola bersama setiap Ahad pagi.

Jujur aja, kadang-kadang kalo Abu itu seorang kakak kelas dan lebih tua daripada kami bisa terlupa begitu saja. Juga bahwa ternyata Abu itu seorang yang ilmunya mungkin saja lebih daripada kami semua—adik-adik kelasnya, sampe dalam sebuah acara dauroh (pelatihan) dan Abu ditunjuk sebagai panitia dan pengisinya.

Sebelum “naek pentas”, Abu keliatannya rada gugup sedikit. Kami yang siap-siap menjadi pendengar ceramahnya snyum-seyum dan menggoda aja. “Wah, ane gugup neh. Tangan ane aja sampe berkeringat dingin begini!” ujarnya sambil senyum-senyum.

Pas ketika beneran waktunya ngasih materi, beberapa dari kami nggak sanggup nahan ketawa, tapi disembunyiin lah. Soalnya, yang jadi moderator ketika itu adiknya.

Sebenernya, materi yang sampein ama Abu waktu itu biasa aja. Maksudnya, kami udah sering kali dapet materi itu berulang kali dari ustadz kami. Tapi ada sesuatu yang lain yang lebih kuat terasakan dari pemaparan Abu.

Tiba-tiba aja, ketika Abu membawakan materi, kami tersadar dengan cepat. Hey, ada sesuatu yang luar biasa dalam diri Abu. Cara bicaranya sederhana, nggak berbelit-belit, nggak berusaha untuk keliatan pinter, nggak berusaha ngucapin kata-kata yang keliatannya intelektual, nggak berusaha untuk ngajarin kami, dan sebagainya. Berasa banget kehangatan dan kebersihan hati dan pemikiran Abu.

Mungkin bagi orang-orang yang usianya berada di atas Abu nggak begitu kentara ngerasain efek Abu ini. Tapi bagi kami yang sehari-hari notabene udah kenal banget ama Abu, jadi sedemikian berpikirnya—bahwa dengan orang seperti Abu lah salah satunya dakwah akan semakin bisa diterima di kalangan orang-orang muda sekarang ini. Mungkin Abu tidak menyadarinya, tapi sesungguhnya kerendahan hatinya itulah yang membuat kami semua “jatuh cinta” padanya.

Dalam perjalanan pulang, saya mendiskusikan tentang Abu dengan seorang temen. “Betul,” ujarnya menimpali saya dengan semangat, “tapi ada satu hal yang nggak boleh kita lupakan dari Abu…”.

“Apa itu?” saya menimpali, teman saya yang satu ini emang suka berpikiran rada lain.

“Yah, sebagai temen, sebagai manusia, kita msuti ngeliat juga sisi-sisi lain seorang Abu. Ane juga sepakat dengan antum, bahkan ane udah sejak lama naruh respek sama Abu, pengen belajar dari kerendahan hatinya itu….”

“Iyak, apa poinnya..?”

“Antum  nggak sabaran amat sih? Begini, orang-orang seperti Abu, ustadz-ustadz kita yang lain kadang nggak ktia beri proteksi penilaian dalam diri kita sendiri, bahwa dalam suatu waktu mereka mungkin aja ada kekurangan dan kekhilafan yang berhubungan kita dan kepentingan kita….”

Saya mangut-mangut, saya udah tau kalo dia ini sering punya pikiran yang rada aneh tadi, tapi nggak sampe punya pikiran seperti itu.

“Maksudnya,” lanjutnya, “ketika waktu itu datang, kita jangan sampe kecewa dan menuntut serta mengharap berlebihan, bahwa Abu dan sosok-sosok lainnya itu kelewat sempurna dengan hal-hal yang mereka punyai yang kita liat selama ini. Namanya juga manusia, ya pasti adalah waktu-waktu di mana kita ngerasa ada hal-hal yang ideal bagi kita….”

“Jadi kompromi begitu?”

“Nggak seperti itu juga. Kalo kompromi kayaknya kita udah disiapin untuk berbuat kesalahan. Padahal kan kesalahan itu dalam tataran nilai seharusnya sesuatu yang nggak kita rencanain, yang nggak kita niatin. Maka dengan itulah kita masih terus bersaudara dalam Islam.”

“Wah, betul Antum.”

“Itu juga pelajaran dari Abu.” [D.Andriani]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s