Obat Awet Muda Buat Emak

Posted: August 11, 2012 in CERPEN
Tags: , , , , ,

remajaislampos—SEPERTI biasa, sepulang sekolah Jono punya kegiatan lain, bukan les bahasa Inggris atau Matematika seperti teman-temannya yang lain. Jono terpaksa menjadi pemulung sepulang sekolah, ia tinggal di gubuk yang terletak di lingkungan TPA. Terbayang, aroma busuk  yang menyengat, lalat hijau yang beterbangan,  dan berbagai sarang penyakit lainya tumplek menjadi satu di sana. Namun Jono tidak punya pilihan, ia dan ibunya tidak mampu membayar rumah sewaan yang lebih layak. Jangankan untuk membayar uang sewa, terkadang untuk makan saja jono dan ibunya harus bersusah payah mendapatkannya.

Sejak kecil, Jono tinggal bersama ibunya, ayah Jono sudah  pergi  mengadu  nasib menjadi TKI di Kwait sejak tujuh tahun yang lalu,  boro-boro kiriman uang, kabar saja tidak pernah Jono dan ibunya terima. Entahlah, bagi Jono kehadiran ayah adalah fatamorgana.

Sudah setahun ini  Minarti, ibu Jono mengalami sakit-sakitan, maklum saja usia beliau sudah menginjak kepala enam. Di usia yang renta itu, Narti, begitu ia sering di panggil harus tetap berjuang melawan ganasnya ibu kota walau hanya untuk mencari sesuap nasi. Narti bukannya tega membiarkan anak semata wayangnya yang kini duduk di bangku kelas tiga SD untuk ikut membantu perekonomian keluarga kecilnya dengan cara memulung, sama seperti apa yang dilakukan Narti dari pagi hingga menjelang sore setiap hari.

Narti berusaha menahan rasa sakit yang ia derita selama ini, kalau pun rasa sakitnya sudah tidak tertahan lagi, ia hanya mengobatinya dengan obat warung yang harganya 500 perak, itu pun kadang kala ia harus berhutang  kepada warung  langganannya. Ia tak ingin kalau penyakitnya itu menjadi penghalang baginya untuk mencari nafkah. Pernah  suatu hari ia pingsan di jalan ketika sedang mulung, namun hal itu tidak di beritahukan kepada anaknya Jono, ia tak ingin melihat anaknya khawatir dan sedih akan keadaannya.

Sudah sore, hari sudah mulai gelap, Jono masih menunggu  di dipan depan rumahnya dengan penuh rasa khawatir, karena tidak seperti biasanya ibunya belum juga pulang.

“emak mana sih…?”

Gumamnya sembari terus mondar mandir karena saking khawatirnya.

Setelah menunggu sekitar dua jam, akhirnya Narti pulang dengan membawa karung yang penuh dengan botol-botol plastik hasil mulung dari pagi hingga malam begini.

“assalamualaikum, Jono emak punlang nih, bantuin bawa karungnnya nak, alhamdulilah hari ini emak dapet banyak, besok kita jual ke bang Samin..”

Bang Samin adalah soerang pengepul barang rongsokan di daerah tempat tinggal mereka, karena Bang Samin adalah Bandar dia jadi begitu di segani oleh para pemulung yang menyetorkan hasilnya.

“waalaikumsallam, emak! Mak kenapa baru pulang? Emak dari mana aja?”

“eh eh, emak malah bingung mau jawab yang mana dulu, hehe..”

Jawabnya dengan santai dan di bumbui dengan senyum dan canda tawa, agar anaknya itu tidak marah dan sedih lagi.

“emak tadi sempet keseleo, kaki emak masuk got. Makannya jalannya jadi lelet, tapi nggak apa-apa kok emak udah urut nih kaki..”

Jelas Narti, padahal kakinya masih sangat sakit, namun ia tetap berusaha sekuat tenaga  untuk terus memulung.

“ya udah mak, sini Jono urut lagi, Jono sayang sama emak, jono nggak mau emak sakit…”

Narti hanya tersenyum dan langsung memeluk Jono dengan hangat, air mata hampir saja mengalir dari matanya, namun seperti biasa ia tetap berusaha tegar, ia tahan rasa sedihnya di hadapan Jono, ia ingin menjadi sosok ibu yang kuat di mata Jono.

***

“Jon? Elu mau ikut kita nggak, maen PS di bang komar?”

“kagak ah, gue mau mulung, bantuin emak gue..”

“oh iya, emak elu kan udah tua Jon, sekarang aja udah sakit-sakitan, paling bentar lagi juga emak lu mati Jon, kalo emak lu mati lu  mau tinggal sama siapa Jon? Bukannya elu kagak punya sodara ya?”

Jono hanya diam, hatinya sakit mendengar kalimat yang keluar dari mulut teman sekolahnya. Tanpa menjawab pertanyaan temannya itu, Jono langsung lari sekencang-kencangnya sambil menagis, ia berhenti di bawah pohon beringin di tengah-tengah gundukan sampah di TPA.  Ia befikir kalau apa yang dikatakan temannya itu ada benarnya juga, kini ibunya sering sakit-sakitan di tambah dengan usianya yang sudah tua, ia takut kalau ibunya akan pergi meninggalkan dia untuk selamanya.

Keesokan harinya saat sedang mulung, Jono melihat ada kerumunn orang ramai sekali, karena penasaran Jono mencoba mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Setelah ia berhasil melewati kerumunan orang banyak ia hanya melihat tukang obat tradisional yang sedang menjelaskan khasiat obatnya itu. Ia begitu tertarik ketika tukang obat itu menjeaskan bahwa ia mempunyai obat awet muda yang sangat mujarab, Jono langsung teringat perkataan temannya tempo lalu, pikirnya kalau emak minum obat itu mungkin emak nggak bakalan mati.

“bang, harga obat awet muda berapa bang..?”

“oh, yang ini yak dek? Ni murah kok cuman 50 ribuan aja..”

Mengetahui harga obat yang mahal itu, Jono langsung pergi dari kerumunan tukang obat itu, ia sadar ia tidak punya uang sebanyak itu. Tapi ia bertekad akan berusaha untuk mendapatkan uang itu.

Sudah dua hari ini Jono memulung dengan giat, kebetulan sekolah sedang libur jono bisa mulung dari pagi sampai malam, itu semua Jono lakukan agar mendapatkan uang untuk membeli  obat awet muda itu.

Akhirnya  dengan susah payah setelah tujuh hari mulung, Jono mendapatkan uang sebesar 65 ribu, uang ini cukup bahkan lebih untuk membeli obat itu. Tanpa pikir panjang Jono langsung membeli obat itu.

“bang, beli obat awet muda ya bang! Buat emak di rumah, biar emak nggak mati bang..!”

Ujarnya demgan penuh semangat.

Si tukang obat hanya diam dan merasa bersalah, ia tahu kalau obat ini hanya obat penghilang sakit kepala saja. Namun karena melihat uang lima puluh ribu, ia pun menjualnya.

“makasih ya bang..”

Jono sudah tidak sabar untuk sampai di rumah dan memberikan obat yang ia beli kepada ibunya, di tengah perjalanan Jono bertemu dengan gerombolan  preman yang sedang mabok, mereka mencegat  dan memalak.

“maaf bang, Jono nggak punya duit bang.” “duit Jono abis di beliin obat buat emak bang..”

“alah, gue nggak mau tau pokoknye elu musti ngasih gue duit…”

“beneran bang, Jono nggak punya duit..”

“sini obat lu, biar gua buang…! Biar tau rasa lu..”

“jangan bang, jangan itu obat awet muda buat emak Jono bang..”

Dan, prakk. Obat yang dengan susah payah di belinya kini hancur, si preman tadi membanting obat itu karena kesal tidak di beri uang.

Kini  Jono hanya bisa menangis, bagaimana tidak, hasil kerja kerasnya kini sudah hilang, ia takut kalau ibunya akan mati.

Kebetulan Narti juga baru pulang mulung, di perjalanan ia melihat anaknya sedang mengis di jalanan seorang diri, ia segera menghampiri anaknya itu.

“Jono kebapa nangis..?”

“emakk..!” sambil memeluk ibunya “obat  awet mudanya pecah mak, maafin Jono mak…!”

“Obat awet muda? Buat emak?”

“iya mak, kata tukang obatnya obat ini bisa bikin emak awet muda, kalo emak awet muda emak nggak bakalan mati mak, Jono takut kalau emak mati Jono tinggal sama siapa?”

Hati Narti langsug tersayat mendengar perkataan polos anaknya, ia sadar usianya sudah tua dan sering sakit-sakitan. Ia terharu mendengar pernyataan anaknya. Kini air mata tak kuasa ia tahan tinggalah ibu dan anak yang saling berpelukan di pinggir jalan sambil menangis.

“astagfirullah, Jono kalau Ibu mati, Jono kan masih punya Allah, Allah nggak akan ngebiarin anak baik sendirian, masih ada Allah nak..” [indra/remajaislampos]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s