Akhir Masa SMA

Posted: August 11, 2012 in CERPEN
Tags: , , , ,

remajaislampos.com—“Mereka tuh kenapa sih,kok bisa-bisanya ngelakuin semua itu. Keterlaluan.” Gerutu Windi setelah mendengar cerita Ima sahabatnya yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit.

“Sudahlah Win, aku juga sih yang salah, memang seharusnya aku tak datang ke sana.” Ima mencoba menenangkan sahabatnya tersebut. Ia hanya bisa  mengurut dada atas perlakuan teman-temannya kemarin. Dia tak menyangka bahwa teman-temannya tega melakukan hal itu padanya. Dia menyadari bahwa kedatangannya ke sekolah sebagai anak baru memang banyak tak disukai. Baru satu minggu sekolah, dia sudah beberapa kali dikerjai teman-temannya. Tapi, Ima selalu menghadapi semuanya dengan sabar. Hingga pada akhirnya, Ima harus terbaring di rumah sakit karena ulah teman-temannya .

Ima ingat saat pertama kali datang ke sekolah, Ima masuk ke kelas XII B. Ia duduk dengan seoarang gadis berambut lurus sebahu, namanya Windi. Semua baik-baik saja sampai bel pulang berbunyi.

“Heh, loe!” seseorang siswi yang diikuti dua siswi di belakangnya memanggil Ima.

“Kamu manggil aku?” Tanya Ima sambil membalikan badan.

“Ya iyalah, emangnya selain loe ada siapa lagi di sini?” Ia menjawab dengan ketus.

“denger yah, gue ingetin sama loe di sekolah ini gue yang berkuasa. So, loe jangan bikin gue marah. Kalau loe nyampe bikin gue marah, loe bakal nyesel seumur hidup karena masuk ke sekolah ini!” ia melanjutkan dengan nada mengancam dan Ia berlalu sambil menyikut Ima. Ima tertegun mendengar perkataannya.

“Hei Ima, belum pulang?” sapa Windi sambil menepuk pundak Ima.

“Eh kamu Win, bikin kaget aja.?”

“Ngomong-ngomong, tadi Hellen ngomong apa sama kamu?”

“Oh… yang tadi tuh namanya Hellen. Enggak apa-apa kok Win.” Ima menjawab lembut.

“Ma, kalo Helen and geng ngomong jangan terlalu di anggap yah. Mereka orangnya emang rada nyebelin. ya udah kita pulang yuk!.”

Ima hanya tersenyum mendengarkan perkataan Windi. Merekapun pulang bersama karena kebetulan rumah mereka searah.

Sampai di rumah Ima mengucapkan salam namun tak ada jawaban, lalu ia masuk ke rumah. Ketika sampai di ruang makan Ima melihat ibunya yang sedang membereskan meja makan. Ima mendekat dan mencium tangan ibunya sambil mengucapkan salam. Ibunya menjawab sambil tersenyum, senyum yang selalu membuat hatinya sejuk. Baginya, Ibu adalah sosok yang selalu ia kagumi setelah ayah. Ya, ayahnya adalah seorang pekerja keras tapi ia tak melupakan bahwa keluarga tak hanya membutuhkan materi. Ia selalu memberikan perhatian pada keluarganya. Iapun selalu menyempatkan diri untuk sholat berjama’ah di rumah. Saat itulah saat yang paling di sukai Ima.

Saat makan malam tiba. Ayahnya yang sudah pulang sejak Ashar tadi, sudah duduk di meja makan. Ima segera bergabung dengan kedua orang tuanya.

“Sayang, tadi gimana sekolahnya?” Tanya ayahnya membuka pembicaraan.

“Mmm… gak ada apa-apa kok Yah.” Jawabnya sedikit tergagap-gagap.

“Sayang, kamu harus serius kalau sekolah jangan malas-malasan yah. Sebentar lagi kan ujian!”

“Iya Yah, Ima ngerti kok.”  Sambil tersenyum Ima mengangguk, dan kembali makan.

Setelah selesai makan Ima masuk ke kamar dan membantingkan tubuhnya ke atas kasur. Pikiran Ima melayang pada teman-teman barunya yang terlihat begitu tak suka akan kehadiranya.

“Apa ada yang salah denganku?” pikirnya.

“Mengapa ia terlihat begitu tak ramah?” lanjutnya, ia terus berpikir sampai tak terasa waktu telah larut malam. Iapun segera tidur, ia tak mau kalau sampai besok kesiangan. Apalagi besok akan ada ulangan Kimia. Ia pindah ke sekolah ini memang pada semester terakhir, jadi ia harus lebih serius lagi belajar. Ia tak ingin kalau ia mendapat kesulitan bersaing saat pendaftaran masuk kuliah nanti.

***

Sudah satu semester Ima sekolah di sekolah tersebut namun perilaku Helen dan temannya Rissa dan Seli tetap sama seperti saat ia pertama masuk. Ima selalu berusaha agar mereka menyukainya, namun semua yang dia lakukan malah semakin membuat mereka tak suka padanya. Ada yang mengatakan bahwa Helen tak menyukai Ima karena ia merasa iri atas perhatian yang diberikan para guru terhadap Ima. Akhirnya Ima hanya bisa pasrah dengan semua itu. Ia tak mau lagi memikirkan teman-temannya, ia ingin fokus pada ujian yang tinggal tiga hari lagi.

Seminggu setelah UAN (Ujian Akhir Nasional), Ima sudah tak belajar seperti biasa. Ia datang ke sekolah hanya karena menunggu kalau-kalau ada pengumuman. Murid kelas XII hanya nongkrong sambil ngobrol gak jelas. Mereka tersebar di lingkungan sekolah ada yang di kantin, di halaman, dan lain-lain. Ima sendiri sudah lama berdiam di perpustakaan sambil membaca sebuah Novel. Ima begitu asyik membaca, sampai ia tak sadar bahwa Helen dan dua temannya duduk di bangku kosong yang ada di hadapannya.

“Hai Ima, serius amat.” Helen menyapa dengan ramah.

“Iya nih. Lagi baca apa sih?” tambah Seli.

“Oh. kalian?” Ima tak percaya dengan siapa yang ada di hadapannya.

“Aku lagi baca Novel. Ada apa ya?” Lanjutnya.

“Gini Im, kita selama ini udah banyak banget buat salah sama loe. Mm…jadi kita sekarang mau minta maaf sama loe.” Helen berbicara dengan suara kecil, hampir tak terdengar oleh Ima.

“I…iya Ima, kita kan bentar lagi pisah. Kita gak mau kalau sampai kita pisah sementara kita masih punya salah sama loe.” lanjut Rissa.

“Loe mau maafin kita kan?” Seli menambahkan.

“Oh….iya, sama-sama. Maafin aku  juga yah kalau aku punya salah?”

“Jadi sekarang kita baikan?” tanya Seli lagi.

“Tentu saja.” Jawab Ima.

“Ya udah, kita pergi dulu ya.” Mereka pun berlalu. Ima tersenyum melihat sikap mereka yang lebih ramah padanya. Ia tak menyangaka bahwa Helen bisa berubah seperti itu.

***

Sejak hari itu Ima merasa benar-benar nyaman berada di sekolah. Walaupun tinggal beberapa hari lagi mereka akan berpisah tapi Ima merasa sangat senang karena Helen benar-benar berubah. Ima bahkan sering melihatnya dengan Windi yang terkenal sebagai musuh bebuyutan Helen. Helen sering mengajak Ima makan di kantin bahkan ia pernah mengajak Ima kerumahnya. Dan saat hasil kelulusan di umumkan Ima semakin bersyukur karena ia lulus dengan hasil yang sangat baik. Ima mendapat hadiah dari salah seorang guru yang ada di sekolah tersebut. Melihat hal itu Helen segera mendekati Ima dan memberikan selamat padanya.

Malam hari, Ima mengabarkan hal itu pada orang tuanya. Orang tua Ima begitu bahagia mendengar kabar baik tersebut. Sebagai hadiah orang tuanya menawari hadiah apa yang Ima inginkan. Tapi, Ima menolak karena melihat orangtuanya bahagia saja sudah merupakan hadiah buat Ima. Di tengah-tengah keasyikan mengobrol, HP (handphone) Ima berdering. Ima pun meminta ijin pada orang tuanya untuk menjawab telephone tersebut. Ternyata, itu telephone dari Helen. Helen ingin memberi tahu bahwa dia dan teman-teman sekelasnya mengadakan pesta perpisahan dan dia ingin agar Ima juga datang. Helen mengatakan bahwa Windi juga sudah ada di rumahnya. Ima mengiyakan dan segera meminta ijin pada orangtuanya untuk pergi ke sana. Karena saat itu baru pukul tujuh, Ima di perbolehkan pergi ke sana.

Saat tiba di rumah Helen, Ima merasa heran karena ia tak mendapati siapapun selain Helen, Rissa dan Selly. Ima langsung diajak masuk. Sesampainya di dalam ia langsung bertanya di mana yang lainnya. Akan tetapi selly mengatakan tak akan ada yang datang lagi selain dia. Ima terkejut mendengar perkataannya, tak hanya itu Ima di kejutkan oleh Rissa dan Selly yang memegang tangan Ima. Ima kemudian di dudukan di sebuah kursi. Tangannya diikat dan mulutnya dipasangi selotip sehingga ia tak bisa berteriak minta tolong. Ima meronta-ronta, akan tetapi semua sia-sia. Kemudian, Helen mengeluarkan jarum suntik. Ima tak tahu apa yang akan disuntikan Helen, tapi yang pasti dia tahu jarum suntik itu akan digunakan Helen padanya.

Tapi sebelum sempat Helen menyuntikan jarum itu, tiba-tiba Windi datang. Windi langsung saja mengambil jarum suntik yang ada di tangan Helen dan mendorong Helen menjauh dari Ima. Dan kemudian Windipun membuka ikatan dan selotip yang ada pada tubuh Ima. Ima pun bebas dan kemudia berkata kepada Helen dan teman-temanya.

“Hel, maksudnya loe tuh apaan sih? Ngelakuin semua ini ke gue? Apa salah gue?” Tanya Ima.

“Iyah yah, gue ga nyangka banget loe sampe tega ngelakuin ini semua sama Ima. Gue juga bodoh banget yah, sampe bisa ketipu sama kebaikan loe. Gue kira loe tuh udah berubah, ternyata bener loe tuh ngga akan pernah bisa berubah” Lanjut Windi nyerocos.

“Emang bener Win, loe tuh bodoh bisa segampang itu percaya sama gue. Loe tuh bodoh banget sih Win” Jawab Helen dengan santainya.

“Tapi, emang apa sih yang nyebabin loe segitu bencinya sama gue Hel?” Ima penasaran.

“Loe mau tau? Ha?.. Harusnya loe mikir dong, loe tuh enak bisa dapet perhatian dari orang tua loe, guru-guru di sekolah dan banyak oranglah yang perhatian sama loe. Nah gue? Orang tua gue mana? Guru-guru gue ngga respect juga sama gue. Gue tuh iri sama lo, Ima” . Jawab Helen, sambil menahan air mata.

“Oh jadi itu yang alesan loe, kasian banget sih loe. Mau dapet perhatian dari orang tapi dengan cara kayak gini.” Ejek Windi karna saking kesalnya.

“Sttt.. kamu ngga boleh gitu Windi, sudahlah sekarang kita berteman saja, walaupun emang sih gue sedikit trauma sama tingkah loe Hel. Tapi buat apa di perpanjang urusan ini. Gimana? Loe mau ngga temenan sama gue?” Ajak Ima.

“Emang loe masih percaya sama gue? Loe percaya kalo gue ngga akan ngelakuin hal yang sama lagi ke loe Im? Tanya Helen.

“Gue percaya, semua orang itu bisa berubah. Dan kalo loe mau, loe juga bisa berubah dan bisa merubah orang-orang di sekitar loe buat perhatian sama loe Hel”. Jawab Ima.

Sambil menangis “Maafin gue yah Im, gue sebenernya yang bodoh, yang bisa-bisanya ngelakuin semua ini ke orang sebaik hati loe. Gue mau jadi temen loe Im, malahan gue mau banget bisa jadi sahabat loe. Sekali lagi maafin gue yah Im.” Jawab Helen dengan sambil air matanya yang terus mengalir.

Kemudia Imapun mendekati Helen dan memeluknya, “Iyah Hel, gue juga kepengen banget jadi sahabat loe dari awal gue sekolah. Sebenernya gue kali yang harusnya iri ke loe, karna menurut gue, loe tuh sempurna” Kata Ima sambil memeluk Helen dengan lebih erat lagi.

“Aduh, gue jadi terharu ngeliat scene ini. Kapan nih sinetron-nya ditayangin?” Kata Windi sambil tertawa-tawa.

“Iyah nih, kita juga sama terharunya sama loe Win.” Lanjut Rissa dan Selli.

“Ya udahlah, jangan tangis-tangis lagi dong. Kita have fun aja mendingan. Dan buat loe Hel, jangan suka iri sama orang lain. Syukurin aja apa yang udah loe punya disaat ini, dan bisa jadi nanti Allah kasih yang lebih kalo loe bisa mensyukuri sekarang” Kata Windi dengan nada seperti Ustadzah yang di tv-tv.

Dan akhirnya malam itupun berakhir indah dengan canda dan tawa dari anak-anak SMA itu yang akan berpisah. [Inayah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s