Sepotong Ayam Goreng

Posted: August 9, 2012 in CERPEN
Tags: , , ,

remajaislampos.com—HARI ini adalah hari ke 20 di bulan ramadhan, di bulan ini semua umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan. Ina adalah anak berumur 6 tahun setiap hari Ina menemani ibunya kemanapun beliau pergi sambil membawa karung dan alat yang terbuat dari besi yang ujungya lancip mirip kail pancing namun dalam ukuran besar, alat ini berguna untuk mengail sampah-sampah plastik seperti botol air mineral.

Ya, Ina dan ibunya adalah pemulung, ayahnya telah meninggal sejak Ina masih bayi. Kehidupannya tak seberuntug teman-teman sebayannya yang bisa sekolah serta bermain dengan riang, bebas tanpa beban. Setiap hari Ina menemani sang Ibu memulung itu semua Ina lakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hari sudah gelap, awan hitam menggelayut di langit.

“mak, udah jam setengan enam mak, bentar lagi buka puasa..” ucap Ina setelah tadi sempat melihat jam dinding yang menempel di tembok toko emas yang baru saja di lewatinya.

“o ya? Ina mau buka sama apa?” mereka berhenti sejenak, duduk santai di depan pertokoan yang kebetulan sudah tutup, karung berisi botol-botol plastik disimpannya di sebelah kanan. Mereka duduk berdua dengan rasa bahagia karena sebentar lagi bedug Maghrib tiba.

“hari ini Ina mau sama ayam yang pake tepung itu mak..!” pinta Ina sambil menunjuk ke arah seberang, di sana ada stand yang berjualan Fried Chicken, kelihatan ramai di sana, orang-orang berkerumun untuk membelinya. Ina melihat seorang anak kecil yang turun dari mobil mewah ditemani ayahnya untuk membeli ayam goreng itu. Dalam bayangan hati Ina ia ber angan andai saja ayahnya masih ada, ia ingin sekali ditemani ayahnya membeli ayam goreng itu.

Ibu Ina merogoh kantong bajunya yang sudah lecek, dan bekas jahitan tangan di mana-mana.

“Sayang, uang kita nggak cukup untuk membeli ayam goreng itu nak..”

“berarti hari ini kita buka puasa pake air putih sama gorengan lagi ya mak?”

Hati Ibunya perih, ia berusaha menahan air mata yang akan keluar dari sudut-sudut matanya, ia tak tega melihat anak kesayangannya hidup dalam kemiskinan.

“sabar ya nak, lain kali kita beli ayam goreng itu..”

jawab Ibu Ina sembari memeluk hangat anak kesayangannya itu. Ina hanya diam maklum, dia masih terlalu dini untuk mnegerti keadaan Ibunya.

Setelah beberapa menit kemudian Adzan Maghrib pun berkumandang dan itu menandakan buka puasa telah tiba.

“kamu tunggu disini ya, Ibu mau beli air sama gorengan dulu”

Ina tetap diam, ia masih mebayangkan nikmatnya rasa ayam goreng itu.

Secara tak sengaja, Ibu Ina melihat ada seorang anak gadis membuang sesuatu ke dalam tong sampah, ia melihat plastiknya masih bagus. Setelah  mendapatkan gorengan yang di belinya ia memungut sampah yang tadi di buang oleh si anak gadis itu, alangkah senangnya ketika ia membuka bungkusan itu, ternyata ayam goreng yang masih hangat. Entah kenapa si anak gadis itu membuangnya, mungkin karena ayam goreng itu ia dapat dari orang yang dibencinya sehingga ia tidak mau memakannya dan memilih untuk membuangnya.

Dengan tergesa-gesa Ibu Ina berjalan menemui anaknya yang sudah menunggu kedatangannya di seberang jalan. Dengan rasa bahagia bercampur haru, ibu Ina menyebrang jalanannyang basah akibat gerimis yang mulai turun. Tanpa di sangaka satu unit mobil mewah melaju dengan kencang dan…

“emmmmaaakkkkk….!!”

teriak Ina saat menyaksikan tubuh ibunya tergeletak tak berdaya di tengah jalan, ayam goreng dan gorengan yang ia bawa berserakan bercampur dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya.

Ina hanya bisa menangis sejadi-jadinya, di dunia ini Ina hanya punya Ibu, tidak ada sanak saudara yang bisa ia mintai pertolongan.

Untungnya pemilik mobil mewah yang telah menabrak ibunya itu bersedia bertangggung jawab, ia membawa ibu Ina ke rumah sakit terdekat.

Ina masih menangis.

“maafkan om ya nak..! om tidak sengaja…”

“emak adalah satu-satunya orang yang Ina punya Om, Ina takut..”

Tangis Ina semakin kencang, orang yang menabrak ibunya pun langsung memeluknya. Terlihat di wajahnya rasa sesal karena kecerobohannya.

Tapi, semuanya sudah terlambat karena mengalami pendarahan yang hebat akhirnya Ibu Ina tak tertolong. Ia pergi meninggalkan Ina anak semata wayangnya untuk selamaya, padahal ia belum sempat memberikan ayam goreng itu kepada anaknya, namun Allah berkehendak lain.

“emmmakkk..!! bangun mak, bangun, jangan tinggalin Ina.. Ina takut mak… !”

***

Gema takbir berkumandang di seluruh dunia, hari ini adalah hari raya Idul Fitri, saat orang-orang lain berkumpul bersama keluarganya, selepas sholat Ied Ina berkunjung ke makam Ibunya. Disana Ia berdo’a untuk Ibunya, dan menaburkan bunga yang Ia bawa dari rumahnya. Ia datang ke makan itu tidak sendirian tapi Ia ditemani oleh orang yang menabrak Ibunya. Dan orang itu bernama Om Henry. Om Henry sangat menyukai Ina dan mengangkat Ina menjadi anaknya. Dia sangat menyayangi Ina.

Dan akhirnya Ina-pun hidup bahagia bersama Om Henry dan Isterinya. Ia sangat senang akhirnya Ia bisa makan ayam goreng setiap hari. Walaupun disaat Ia memakan ayam goreng itu hatinya masih sakit karena pikiranya selalu memikirkan Ibunya lagi.

Tetapi apapun yang terjadi, Ina tetap berusaha untuk tegar menjalani hidupnya. Ina selalu menyumbangkan uang saku yang diberi Om Henry untuk dikasihkan kepada Panti Asuhan. Dan itu semua berawal dari kejadian itu… [Indra&Inay]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s