My Diary

Posted: August 9, 2012 in CERPEN
Tags: , , ,

Tanggal 4 januari 2001

remajaislampos.com— HARI ini adalah hari pertama aku duduk di bangku SMA Tunas Bangsa. SMA Tunas Bangsa adalah SMA paling ketat dan paling elit, banyak sekali orang yang ingin masuk SMA Tunas Bangsa, namun tidak sedikit dari mereka yang gagal. Aku pun tidak pernah menyangka bisa sekolah disini. Kalau saja bukan karena beasiswa maka aku tidak akan bisa sekolah disini karena biayanya yang sangat mahal. Aku bahagia sekali karena aku bisa menjadi kebanggaan Bapak dan Ibu, mereka sangat senang dengan beasiswa yang aku dapatkan. Mereka selalu berpesan kepadaku agar tetap menjadi aku yang dulu, aku yang rajin belajar, aku yang rajin shalat dan ngaji, aku yang selalu sopan dan aku yang selalu mendengarkan perkataan orang tua. Aku tahu mereka berkata seperti itu karena mereka tahu tantangan di SMA lebih berat lagi daripada waktu di SMP.

Jujur, hari pertama sekolahku agak membosankan karena aku belum punya teman, apalagi aku juga sedikit merasa minder karena penampilanku yang sangat jauh berbeda dengan mereka yang orangtuanya kaya. Aku merasa senang hanya saat kegiatan belajar berlangsung. Ternyata pelajarannya tidak terlalu sulit, aku dapat dengan mudah menerima teori yang di berikan Pak Fajar dan guru-guru yang lain.

Tanggal 5 januari 2001

Ini adalah hari keduaku sekolah di SMA Tunas Bangsa. Aku berjalan-jalan di sekitar taman sekolah yang sangat luas dan penuh dengan pepohonan. Ketika itu seseorang memanggilku dan mengajak duduk di bangku taman belakang. Dia memberiku sekotak teh botol yang di belinya di kantin. Kami berdua berkenalan dan entah kenapa kami sangat begitu cepat bisa akrab seperti teman yang sudah lama. Dia adalah Risa teman baruku dan dia sekelas denganku.

Tak terasa jam belajar sudah selesai, semua murid berhamburan keluar. Aku tidak ikut memperebutkan lubang pintu kelas, aku hanya diam menuggu semua orang keluar. Aku pikir hanya aku yang tidak ikut lomba mendapatkan lubang pintu, tapi ternyata Risa juga tidak ikut. Dia bilang dia tidak suka melakukan hal sebodoh itu.

Ternyata hari kedua sekolahku tidak membosankan seperti kemaren, sekarang aku mulai bisa beradaptasi di sekolah ini dan aku juga sudah mendapatkan seorang teman. Risa.

Tanggal 12 februari 2001

Rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak menuliskan sesuatu lagi di diary. Yah, memang akhir-akhir ini aku sangat sibuk sekali sehingga aku tidak mempunyai waktu lagi untuk berbagi cerita dengan diaryku.

Aku seorang ketua osis sekarang, dan aku tidak pernah menyangka aku akan menjadi orang terkenal urutan ketiga di sekolah ini setelah Reva cs dan Andra seorang laki-laki yang sangat pintar. Dia anak Pak Wiratno kepsek di SMA Tunas Bangsa. Sedikit cerita dia juga banyak di sukai oleh para wanita disini.

Semua kegiatanku berjalan dengan lancar, aku selalu mendapatkan prestasi di sekolah ini dan itu membuat orangtuaku senang. Selain itu aku juga menjadi murid kepercayaan guru yang ke dua setelah Andra untuk memimpin diskusi ketika guru tidak ada.

Oh ya, kali ini sekolah Tunas Bangsa sedang di hebohkan. Reva cs yang menjadi orang terkenal nomor satu di sekolah ini  lagi di gandrungi para murid perempuan karena stylenya, mulai dari baju, aksesoris sampai gaya rambut di ikutin oleh para murid perempuan. Tapi aku dan Risa sama sekali tidak tertarik untuk mengikutinya seperti kebanyakan orang, karena kami lebih suka mempunyai style sendiri. Walaupun sebenarnya aku juga tertarik untuk mengetahui tentang kehidupan Reva dan teman-temannya.

Special day part 1 (hari kenaikan kelas).

Nggak kerasa hari ini aku akan resmi naik kelas dua. Sekolah kami mengadakan acara pentas untuk para murid yang naik kelas dan yang keluar (lulus) dari SMA Tunas Bangsa. Beberapa murid menunjukan  bakat-bakat mereka di pentas ini, termasuk Reva cs, Risa dan juga aku. Aku dan Risa duet membaca puisi sementara Reva cs menari dan bernyanyi. Percaya atau tidak, walaupun aku merasa sedikit iri tapi aku harus mengakui penampilan Reva cs sangat bagus sekali. Dan, tanpa sadar aku juga mulai menyukai stylenya Reva cs. Aku juga merasa ingin berteman dengannya. Aku pikir tidak ada salahnya kalau aku ingin lebih terkenal lagi di sekolah ini.

Setelah Reva cs, giliran aku dan Risa yang tampil. Kami berdua berusaha memberikan penampilan yang terbaik. Aku dan Risa berusaha menghayati setiap bait puisi yang kami baca. Kami ingin bisa membaca puisi seperti W.S Rendra.

KEJUTAN BANGET!!! Aku dan Risa nggak menyangka kalau kami bakal mendapatkan standing applause. Selain itu aku juga mendapatkan prestasi lagi. Aku menjadi juara umum mengalahkan Andra.

Setelah acara selesai, aku tidak langsung pulang, aku bilang kalau aku masih ingin di sekolah. Jadi, Bapak dan Ibu pulang duluan. Aku berjalan di sekeliling taman mencari Risa, tapi aku malah bertemu Reva cs. Aku nggak nyangka Reva memberikan selamat kepadaku dan mengajakku untuk menjadi temannya. Tentu saja aku menerima tawaran itu, aku harap aku akan menjadi teman paling dekat dengan Reva dibanding Amel dan Shiren. Aku juga akan menuliskan tentang pertemananku di buku diary.

Special day Part 2 (hari pertama kelas dua SMA)

Hari ini sekolah masuk lagi, dan statusku sudah berubah menjadi anak kelas XI. Dan, sekarang aku sudah berteman dengan Reva cs. Oh ya, aku meminta Reva supaya mau menjadi teman Risa juga, dan ternyata Reva tidak menolak dia bersedia Risa bergabung bersama kami.

Sudah seminggu aku dan Risa berteman dengan Reva, Amel dan shiren. aku merasa senang sekali walaupun aku juga merasa risih karena banyak yang menatap iri kepadaku.

Semakin hari aku semakin akrab dengan Reva, bahkan apa yang kuinginkan ternyata terwujud, aku lebih dekat dengan Reva di banding Amel dan Shiren. Reva juga ternyata lebih baik dari yang aku kira, dia selalu membelikanku baju-baju, mentraktirku di restoran mewah. Ya ampuun… aku seneng banget. Tapi nggak tahu kenapa Risa nggak pernah menikmati semua itu, di saat aku, Reva, Amel dan Shiren tertawa membicarakan tentang Rani orang paling gendut di sekolah kami yang selalu kesusahan kalau jalan, Risa justru cemberut dia memarahi kami berempat terutama aku, dia bilang kalau aku berubah jadi orang jahat yang suka membiacarakan kekurangan teman. Jujur saja aku merasa sakit hati dibilang orang jahat, tapi apa aku salah mengataan Rani orang gendut? Apa yang aku ktakan sesuai kok dengan kenyataannya.

Aku rasa makin hari aku semakin jauh dengan Risa, malah bisa di bilang aku tidak lagi berteman dengan Risa. Tapi ah, aku pikir masa cuman ngomongin tentang Rani saja dia bisa marah selama ini. Mungkin dia lagi ingin sendiri saja.

Semester 1 kelas XI (Andai Saja…)

Kini kehidupanku sudah banyak yang berubah, aku mulai senang hidup mewah, sering keluar malam dengan alasan mengerjakan PR (pekerjaan rumah) bareng di rumah teman. Tapi, aku merasa enjoy banget ngejalanin itu semua.

Selama ini aku hanya menjadi gadis penunggu rumah, apa salahnya sesekali aku juga ingin keluar seperti teman-temanku, walaupun untuk melakukan itu semua aku harus berbohong.

Meskipun aku merasa enjoy tapi ada satu hal yang selalu mengganjal dihatiku. aku ingin sekali menuliskannya di diary ini, walaupun aku merasa malu tapi, aku tidak bisa menyimpannya terus, aku ingin mengatakannya walaupun ternyata aku hanya berani menuliskanya di diary. jujur saja aku punya banyak sekali hutang, dan sekarang aku bingung harus dengan apa aku membayar hutang yang jumlahnya sangat banyak itu. 3.800.000. Andai saja aku tidak  terlahir sebagai orang miskin, kalau saja aku anak orang kaya, hutang sebesar itu tidak akan ada artinya.

Dengan hutang sebanyak itu kadang-kadang aku merasa seperti orang bodoh, bisa-bisanya aku berpura-pura sebagai anak orang kaya dan mentraktir Reva. Aku berpura-pura di beri uang jajan lebih oleh Bapak, padahal uang itu aku pinjam dari bank yang bunganya sangat besar. Tapi sekali lagi aku membantah perasaan seperti itu, tidak ada salahnya jika aku juga mau di hargai teman apalagi sama Reva. Oh ya, sekarang aku dan Reva menjadi icon nomor satu di sekolah. Hanya aku dan Reva. Tidak ada yang lain karena Amel dan Shiren sudah bukan lagi teman kami. Reva mengusir mereka dari rumahnya ketika mereka memperebutkan bukuku sampai sobek dan kini mereka tidak mau bereteman lagi denganku, apalagi Reva juga melarang kami berteman lagi.

Reva bilang mereka itu (Amel, Shiren dan Risa) tidak layak dijadikan teman. Reva mengancam aku, dia bilang dia akan menjauhi aku dan tidak akan berteman lagi denganku jika aku berteman dengan Risa, Amel dan Shiren. Padahal mereka bertiga kini menjadi teman yang sangat akrab. Tapi, aku hanya bisa mengangguk kepada Reva karena hanya dengan Revalah aku bisa merasa seperti orang kaya yang bisa memiliki apa yang aku mau.

Hari pertama ulangan Smester 2 kelas XI.

Semakin lama reputasiku semakin menurun, aku baru sadar tidak selamanya dan tidak seharusnya aku menjadi orang terkenal di sekolah ini, apalagi sekarang Reva sedang ada masalah. Ada orang yang mengadukan kalau Reva mengkonsumsi barang-barang haram. Sekarang aku tidak mempunyai teman di sekolah karena Reva di tahan di kantor polisi. Aku berusaha mendekati Risa, amel dan Shiren dengan menanyakan kondisi Pak Fajar yang sedang sakit, tapi itu sia-sia aku hanya membuat malu diriku saja. Mereka mengacuhkanku dan menganggapku tidak ada. Dan orang-orang yang dulu mengagumi aku dan Reva kini berbalik arah menjadi orang-orang yang benci kepada kami berdua. Hari ini aku sangat bingung sekali dan aku juga kesulitan mengisi soal ulangan smester ini.

Hari ke-dua ujian smester 2

Hari ke-dua ujian ternyata tidak lebih baik dari hari pertama, saat kami sedang berkonsentrasi mengerjakan soal tiba-tiba saja kepala sekolah datang ke kelas dan mengatakan sesuatu yang memalukan di depan semua teman-temanku, kalau aku anak yang rajin, anak yang pintar, anak yang selalu mendapatkan prestasi kini menjadi seorang anak yang malas, dan seseorang yang yang gemar memakai barang haram, akan di keluarkan dari sekolah dan tidak pantas lagi sekolah disini. Ia memintaku berhenti mengisi soal ujian dan menyuruhku keluar dari ruangan. Mendengar itu ingin rasanya aku berteriak kalau aku bukan anak yang malas, aku bukan penggemar barang haram aku bukan anak yang seperti itu. Tapi rasa malu dan kenyataan yang benar, menahan aku untuk berteriak. Walaupun sesungguhnya aku bukanlah penggemar, aku hanya mencoba itu karena Reva memintaku untuk mencobanya. Dengan malu aku keluar dari ruangan yang sangat aku impikan, ruangan kelas yang nyaman itu kini bukan lagi tempatku. Aku merasa seluruh tubuhku lemah sekali. Ya Allah…aku merasa malu sekali, apa sebenarnya yang sudah terjadi. Aku tidak sanggup menahan tangis mendengar itu semua, sekolah yang kuimpikan, kesuksesan yang kuimpikan kini hancur. aku tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Aku tidak tahan lagi, perilakuku yang selalu mebantah kata hatiku telah mendatangkan kenyataan yang begitu pahit untukku.

Nilaiku di sekolah anjlok. Risa menjadi juara umum. Reva di penjara karena terbukti memakai barang haram dan aku juga harus masuk penjara karena menabrak seoarang wanita tua hingga ia meninggal ketika aku sedang mengemudi mobil yang di hadiahkan keluarga Reva di hari ualng tahunku. Dan, wanita tua itu tidak lain adalah ibuku sendiri. Kini aku adalah seoarang remaja yang harus meringkuk di dalam penjara bersama Reva orang yang mengatakan dan mengadukan aku seorang penggemar narkoba. Reva teman yang ku anggap sangat baik bahkan lebih dari Risa ternyata dia seorang teman yang memiliki cara yang begitu manis untuk menjatuhkanku walaupun pada akhirnya diapun harus ikut masuk ke dalam jurang bersamaku.

Hari di dalam penjara.

Berhari-hari aku menjalani hukuman yang di berikan tuhan bersama seorang teman yang jahat. Aku berusaha menerima semua ini. Tapi makin hari aku merasa seluruh badanku lemah, aku mulai sakit-sakitan dan aku juga pernah di bawa ke rumah sakit.

Setiap hari, keluarga Reva selalu datang menjenguknya. Tapi, keluargaku tidak ada satupun yang datang. Begitu juga dengan Risa dan juga Bapak, terakhir kali aku dengar kalau Bapak pergi mencari kerja di luar  jawa untuk menenangkan hatinya. Kini aku tidak mempunyai apa-apa lagi, aku telah meninggalkan kebahagiaanku yang abadi bersama keluarga kecilku, aku telah melakukan hal yang bodoh hanya untuk mengejar kebahagiaan yang sesaat. Ya Allah, maafkanlah aku, jangan tinggalakan aku karena aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi di sini. Aku hanya punya diary tempat aku menuliskan cerita hidupku. Maafkanlah semua kesalahanku, aku berjanji akan menjadi aku yang dulu, aku berjanji akan meminta maaf kepada semua orang yang telah aku sakiti. Tolong maafkan aku ya Allah, berikanlah aku kesempatan untuk bertobat di detik-detik terakhir hidupku ini. Malika.

Risa menutup diary Malika. Kini dia hanya bisa menatap tanah merah yang menimbun tubuh teman yang paling ia sayangi. Ingin rasanya Risa meminta maaf dan melihat Malika tertawa lagi seperti dulu. Tapi Risa hanya bisa mengatakan maaf atas kesalahan dia membiarkan Malika menjalani kehidupan yang salah dan ketidak mengertian dia atas keinginan Malika yang juga ingin di jenguk saat dia menjalani hukuman di dalam penjara. [Inayah]

           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s