Belajar

Posted: August 6, 2012 in Uncategorized
Tags: , , ,

remajaislampos.com—KAMU yang duduk di kelas 3, SMP atau SMU, tentu sekarang sedang sibuk-sibuknya belajar. Berbagai persiapan kamu lakukan untuk menghadapi ujian akhir. Kesenangan dan hobi untuk sementara dikurangi, karena kamu harus berkonsentrasi mengerjakan latihan soal.

Apa yang kamu rasakan tatkala menyelesaikan soal matematika atau fisika, juga mengingat catatan sejarah dan geografi negara-negara di dunia? Apa kamu merasa jenuh plus bosan? Stress kali yah. Kepala pusing tiba-tiba, lantas perut sedikit mual? Hati-hati, jangan sampai lupa makan, hanya karena dihantui beban ujian. Enjoy aja, deh.

Segala kepusingan itu muncul akibat kita keliru dalam memahami dan menerapkan hakekat belajar. Bahasa bulenya, learning atau studying. Di dalam Al-Qur’an diperintahkan agar kita semua mengajarkan (ta’lim) kandungan makna Al Kitab dan senantiasa mempelajarinya (tadarus). Itulah cirri generasi Rabbani, yakni orang-orang yang menggantungkan harapanya kepada Allah semata.

Belajar bukan cumin menghafal rumus atau mengingat tahun dan peristiwa sejarah, walau hafalan dan ingatan itu perlu sebagai modal. Sebab, proses belajar menuntut kesediaan untuk memahami, menghayati, menerapkan dan menjalani. Semua teori harus diuji dalam praktek, segala macam ilmu harus berujung pada amal. Segenap catatan kudu menjadi aksi nyata, bukan angan-angan kosong.

Tugas kamu bukan hanya “menghafal” sejarah, melainkan memahami prinsip-prinsip penting di balik peristiwa sejarah, agar kamu bisa “membuat” sejarah sendiri. Mengukir masa depan yang kamu cita-citakan.

Orang sering bilang, “Learning by doing”. Artinya, kita belajar sesuatu dengan cara menjalaninya. Misal, naik sepeda, gak perlu teori muluk-muluk. Cukup naik ke atas sadel, dan genjot itu pedalnya. Kalau nabrak tembok atau pagar itu biasa, oleng ke kiri dan kanan juga normal. Apalagi, jatuh dan lecet, itu resiko.

Semakin lama kamu bersepeda, semakin tahu kamu bagaimana caranya mengatur keseimbangan. Pelan-pelan kamu menyadari pentingnya mengatur kecepatan dan kesiagaan untuk mengerem, apabila jalan menurun atau menikung. Makin sering bersepeda, makin asyik aja. Kalau sudah mahir, kamu bisa lepas kedua tangan dari stang. Kamu bisa jumping (melompat) waktu lewat undakan, atau ngepot sambil berbalik arah.

Bersepeda menjadi suatu keasyikan. Bekas luka di kaki dan tangan, eh malah jadi kebanggaan. Kamu bisa cerita, luka di lutut karena lupa ngerem saat jumping, ya pasti jatuh nyusruk lah. Mertinya waktu jumping, tak perlu direm, cukup dijaga keseimbangan tubuh dan sepeda. Sedang luka di siku, akibat kamu menghindari insiden, karena ada anak kecil yang melintas di jalan. Kamu jadi pahlawan, dan bekas luka itu jadi semacam “satyalencana” seumur hidup.

Sekarang coba kaitkanlah semua pelajaran yang kamu serap di sekolah dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Misalnya,untuk menguji kemampuan berhitung dan matematika, kamu perlu membantu ummi menata uang belanja. Lebih asyik lagi, kalau ummi kamu kebetulan seorang pedagang, kamu bisa jadi “kasir-nya”. Tapi, kalau kamu sudah pandani menyusun neraca debet/kredit, jangan korupsi yah!

Lalu bagaimana mempraktekan pelajaran sejarah, sosiologi, atau politik dan sejenisnya? Coba telusuri silsilah keluarga kamu. Ada ummi/abi kan? Atau ayah/bunda, lalu diatasnya kakek/nenek, selanjutnya buyut, berikutnya canggah. Lacak terus sampai nenek moyang pertama. Apakah garis keturunanmu bertemu dengan Jenderal Sudirman atau Pangeran Diponegoro? Jangan-jangan kamu masih keturunan Imam Bonjol/? Atau, kamu ternyata pewaris Teuku Umar atau Cut Nyak Dien? Barangkali, kamu penerus perjuangan Sultan Ba’abullah (Ternate,Maluku Utara) atau Pattimura (Ambon,Maluku) ?

Jangan sedih, jika kamu terbukti keturunan “orang-orang biasa” aja, karena Republik ini direbut dari tangan penjajah dengan pengorbanan jutaan rakyat awan yang tak tercatat dalam buku sejarah. Parah pahlawan itu punya anak buah dan teman. Nah, kepahlawanan mereka ditopang kesetiaan (tsiqah) dan pengorbanan (tadhiyah) dari senatero pengikutnya. Kalau para pengikutnya membelot dan penakut, mana ada tindakan keberanian seperti “Palagan Ambarawa” (dipimpim Jenderal Sudirman) atau terbunuhnya Jenderal Van Heustz di halaman Masjid Baiturrahman, Banda Aceh. Ya, kan ?

Dengan menekuni silsilah keluarga atau momen sejarah, kamu akan tahu betapa pentingnya tindakan keberanian dan kepeloporan. Jangan pernah belajar jadi penakut dan pengekor. [Paman Abu]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s