Meninggalkan Jejak

Posted: August 2, 2012 in Uncategorized
Tags: , , , ,

remajaislampos.com—DIA sebenarnya bukan siapa-siapa. Hanya seorang anak yang lahir di masa awal kemerdekaan Indonesia. Tahun 1947. Yang bikin dia beda dengan anak-anak kebanyakan, dia rajin menulis. Di usia ABG dia sudah rajin menuangkan uneg-uneg, pemikiran, pergaulan batin, pertanyaan, dan pengamatan terhadap lingkungan dalam buku catatanya. Coba simak salah satu tulisanya “4 Maret 1957. Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu. Ulangan ilmu bumiku 8 tapi dikurangi 3 jadi tinggal 5…” waktu itu usianya baru sepuluh tahun. Dan, di tahun 2005, Riri Riza mengangkat kisah hidupnya ke layar lebar. Yap, dia adalah Soe Hok Gie.

SAYA ngomongin Soe Hok Gie bukan dalam rangka promosi film ataupun buku. Saya Cuma pengen nunjukin, betapa tulisan dapat mempengaruhi ruang dan waktu meskipun penulisnya sudah game over. Berapa pemikiran, ide, gagasan, dan pendapat kita bisa merasuki orang lain hingga puluhan bahkan ratusan tahun lamanya.

Soe Hak Gie is come back again in 2005. Jadi buah bibir di televise, radio, dan media cetak. Buku di tenteng bangga oleh cowo dan cewe gaul. Selain cover edisi terbarunya ada tampang keren Nicholas, buku itu juga seolah nunjukin identitas si pemilik “Gini-gini gue juga aktivis!”

Gie menjadi semacam idola baru di kalangan pelajar dan mahasiswa. Padahal mungkin masih banyak aktivis angkatan 66 yang pemikiranya nggak kalah hebat dengan Soe Hok Gie. Keunggulan Gie adalah mencatat setiap letupan hatinya pada zaman yang bergejolak. Tulisanya merekan apa dan bagaimana situasi waktu itu.

Selain Gie, kita juga nggak asing sama yang namanya Raden Ajeng Kartini. Dia seorang putrid bangsawan yang namanya identik dengan gerakan emansipasi wanita… Padahal jika kita bandingin dengan Cut Nyak Dien, Dewi Sartika dan sederet pahlawan wanita lainnya, mereka nggak kalah hebat. Menulis ungkapan perasaan, pikiranya, gundah gulananya akan nasib kaum wanita negerinya. Tulisan-tulisan Kartini terdokumentasi dengan baik hingga bisa dibaca anak cucunya.

Apa jadinya jika Imam Syahid Hasan Al-Banna nggak pernah menuliskan pemikiranya. Nggak pernah mencatat pengalaman dakwahnya. Mungkin kita nggak bakal kenal Ikhwanul Muslimin yang member inspirasi gerakan Islam di berbagai negari. Apa jadinya pula bila Sayyid Quthb nggak pernah menggerakkan tangan, menuliskan karya berharganya di dakam penjara. Ngga aka nada karya-karya besar kayak Fi Zihlilal Qur’an yang menjadi referensi banyak ulama.

Jadi, menulislah bro! Tuanglah gagasanmu, pendapatmu, gundah gulanamu lewat tulisan. Jangan puyeng mikirin bentuknya. Mulai aja dari hal-hal yang kamu lakuin setiap hari. Tulisanmu bisa jadi bahan evaluasi  diri. Mudah-mudahan suatu haru tulisanmu bisa jadi penggerak orang berbuat baik.

Menulis sama dengan meninggalkan jejak pada dunia fana ini. Biar tanah sudah memeluk raga, tulisan kita tetap akan dibaca oleh generasi berikutnya. Makanya penting banget bikin tulisan yang ngasih pencerahan jiwa-jiwa kerontang. Tebar-tebar kebaikan lewat tulisan. Jangan membungkus kemaksiatan dalam tulisan, sebab hasilnya juga bisa fatal. Tulisan bisa menjadi pengantar menuju surge atau penjerumus siksa neraka.

Kita nulis bukan untuk dikenang seperti Soe Hok Gie atau Kartini. Kita nulis dalam rangka ngelaksanain salah satu hidup kita di muka bumi. Sebagai juru dakwah. Sukses hidup manusia adalah ketika ia bisa menyerukan kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Dan hal itu bisa kita lakukan lewat tulisan. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s