remajaislampos.com—Hari ini, kita sudah dikuasai makanan. Setiap lini dari hidup kita selalu aja berhubungan dengan makanan. Hampir-hampir, segala hidup kita tertuju pada barang yang satu ini. Bener kan? Coba ingat-ingat, apa seh yang suka kita kerjain kalo lagi jam istirahat? Makan, solat, ke perpustakaan, ngobrol, atau apa?  Menurut pengamatan (cie…) kebanyakan dari kita pastinya milih makan. Walau cuma makan bala-bala doing seumpamanya. Tul, nggak? Atau kalo jam pelajaran sudah habis dan guru masih di kelas, kita ngeluh. Resah, ingin segera ngisi perut. Atau lagi, kalau uang kita ilang sekian rupiah, kita suka membandingkannya dengan jumlah makanan yang bisa kita beli; seandainya uang itu masih ada?  Ck…ck…ck…

BUKAN cuma itu, bahkan dalam materi pelajaran sekalipun, makanan acap kali ikut serta. Seperti dalam pelajaran Matematika  berikut ini, “Nana membeli permen sebanyak 20 buah. Dua buah permen telah ia makan. Berapakah permen Nana sekarang?”  Dalam pelajaran Matematika, pendekatan analogi memang cukup efektif. Anak-anak belajar berimajinasi dan mengasah kemampuan berpikir mereka. Akan tetapi, analogi di atas sangat nggak berbobot. Dan nggak sesuai dengan tujuan pendidikan kita. Maka, nggak heran kalau kita cuma mikirin makanan melulu. Karena memang dari kecil diarahkan untuk menjadi pecinta makanan. Eit, kok jadi nyalahan yang lain sih. Itu hanya sebuah justifikasi atas kecenderungan kita pada makanan. Tul nggak, bos?

Ini beda dengan materi pelajaran berhitung di Israel sono. “Jika kamu punya 10 butir peluru dan ada 15 orang Palestina yang harus kamu bunuh, maka berapakah peluru yang harus kamu tambahkan?.” Nah lho, nggak usah kaget ngedenger kata peluru dan bunuh-membunuh. Karena ini sudah jadi santapan sehari-hari penduduk Palestina. Saking bencinya orang Yahudi ama Palestina, mereka didik generasi mereka agar juga membenci Palestina. Dan hasilnya, mereka berhasil mendidik anak-anak mereka untuk jadi musuh nomor wahid buat Palestina. Terbukti, sudah berapa ribu nyawa Palestina yang melayang sejak Israel dideklarasikan (tahun 1948). Hingga kini penduduk Palestina hanya bersisa enam juta jiwa. Selisih satu juta dengan penduduk Israel yang lima juta saja. Hehh!

OK deh. Kembali ke laptop…! (Halah, Tukul banget!). Jadi intinya adalah pengendalian diri. Maksud loh? Yah,  kita memang butuh makanan. Sekering kerontang apapun orang, pasti doyan sama yang namanya makanan. Juga orang yang over weight. Tanpa makanan kita nggak bisa bekerja. Nggak bisa belajar. Nggak bisa beribadah dan yang lainnya. Dan tentunya nggak bisa hidup. Memang betul, hidup dan mati kita Allah lah yang mengatur. Akan tetapi harus ada usaha dari kita untuk survive. Satu di antaranya, ya makan itu tadi.

Makanan tuh kebutuhan kita yang paling pokok. Kalau nggak terpenuhi maka akibatnya bakal fatal. Makanan juga termasuk kebutuhan yang mendesak. Yang harus dipenuhi sekarang juga, kecuali lagi shaum. Tapi adakalanya makanan menjadi barang yang non-primer. Yaitu ketika kita nggak lapar.

Jika kita lapar kemudian kita makan, maka makannya itu adalah usaha pemenuhan kebutuhan. Dan memang musti begitu. Mau salat aja, kalau udah ada makanan yang tersedia, kita harus makan dulu. Kalau mau salat dan kita dalam keadaan lapar, maka kita isi dulu perut kita. Bahkan ketika kita shaum (sunah), dan kita disuguhi makanan, kita diperbolehkan untuk berbuka. Dengan maksud untuk menghomati tamu gitu.

Tapi jika kita nggak lapar tapi tetep makan juga, hanya karena tergoda oleh kelezatan makanan itu, maka makannya itu termasuk kegiatan yang mengikuti nafsu aja. Bukan lagi pemenuhan kebutuhan. Jika dilakukan berulang-ulang, akan menumpulkan kemampuan kita mengendalikan nafsu yang lainnnya. Misalnya kita baru aja makan dan sebentar kemudian ada tukang baso ngelewat. Walaupun nggak lapar, tetap aja beli. Ini bisa masuk pada kategori ghuluw (berlebih – lebihan) alias RW 06. Bahkan bisa masuk kategori pemborosan. Nah, lho!

Makanya kenapa orang yang berpuasa itu begitu diistimewakan Allah? Karena menahan kebutuhan primer dan mendesak—makan dan minum—aja mereka mampu, apalagi untuk menahan hal-hal lain yang nggak urgen. Seperti yang disebutkan oleh seorang ulama,  salah satu penyebab mudah mengantuk yaitu terlalu banyak minum. Dan banyak minum disebabkan oleh banyak makan.

Rasulullah nggak pernah makan kecuali dalam keadaan lapar. Jika punya makanan walaupun sedikit, beliau selalu membaginya dengan yang lain. Dan betapa indah saling berbagi itu, jika kita tau. Dan Rasulullah menganjurkan, jika kita punya makanan dan kita nggak mampu memberinya pada tetangga kita, maka jangan sampe deh makanan itu kita perlihatkan pada mereka. Karena makanan itu bisa membuat tetangga kita sedih, iri, marah, gembira, de es be.

Bercerminlah pada Rasulullah. Makan ketika lapar. Dan berhenti sebelum kenyang. Jangan sebaliknya, makan sebelum lapar, dan berhenti setelah betul-betul kenyang. Niatkan, bahwa kita makan agar kita punya tenaga dan asupan gizi untuk beribadah kepada Allah. Pokoknya niatkan segala sesuatunya only to Allah, dah ah. Juga perhatikan jenis kehalalannya. Jangan sampai darah kita ini terkotori oleh makanan haram. Termasuk cara mendapatkannya. Jika diperoleh dengan cara yang nggak halal, atau dari uang haram, maka makanan itu menjadi nggak halal pula. Dan itu akan bercampur dengan darah kita. Dengan daging kita, tulang kita. Dan memberatkan kita nantinya. Tau, nggak?  Orang yang korup dan suka makan barang haram, jenazahnya beraaat banget. Nggak percaya? Halah, mending percaya aja, dude!

SO, be careful aja soal makanan. Jangan sampai membuat kita menjadi seorang pemboros. Menjadi seorang yang berlebih-lebihan. Menjadi seorang yang lalai, malas, dan terjerumus lebih dalam ke jurang penderitaan. Deh segitunya. Karena gara-gara makanan, orang rela mnggaknti aqidah. Naudzubillah. Hanya karena sebungkus mie instant, orang rela berpindah agama. Ini membuktikan, betapa makanan dan nafsu telah menguasainya. Sekarang, coba bedah isi otak kita. Kalau di dalamnya banyak makanan, berarti, kita emang sudah dikuasai makanan.  ***[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s