remajaislampos—Dudes, yang namanya Indonesia tercinta kita ini, pembajakan adalah denyut nadi ekonomi masyarakat, termasuk kita-kita para remaja he he he…. Apa maksudnya ney, tiba-tiba aja ngomongin yang cenderung nuduh begini?

WADOH, tentu aja ente semua juga pada tau mulai dari ujung gang ke ujung lain, ampir nggak ada deh yang nggak berbau bajakan. Mulai dari pakean dalem (hush!) sampe ke urusan piranti lunak kayak program-program komputer gitu deh. Bayangin aja, alat-alat elektornik, baju gambarnya bajakan, buku juga bajakan, sedangkan kalo semacam CD, kaset, DVD dan temen-temennya—huh!—itu mah udah semacam lisensi aja he he he… (apa nggak salah nih kalimatnya?).

Kenapa sih begitu membabi butanya masalah bajak-membajak ini di negeri kita?

Kalo mau ngejawab pertanyaan itu jelas kita musti mau ngeliat realitas yang juga sedang terjadi. Semuanya bisa jadi cuman imbas dari peraturan pemerintah yang selalu nggak pernah jelas gimana maunya dan kemana arahnya, mental aparat dan pejabat yang makin keropos bahkan busuk, ditambah dengan ini: kondisi rakyat yang makin cekak. Lho apa hubungannya? Ya, ada.

Man, coba mari kita itung-itung. Di Indonesia ini harga-harga yang beredar di pasaran tuh beneran tinggi. Kenapa tingginya, ini karena kenaikan yang dipicu ama kenaikan BBM udah nggak proporsional dan nggak sebanding dengan pendapatan rakyat. Banyak pejabat yang bilang kalo harga BBM di Indonesia tuh masih kelewat murah dibandingin dengan negara-negara lain, emang betul. Tapi sadar nggak sih, misalnya harga bensin 1 liter sekitar Rp. 10.000 di nagri karena pendapatan per kapita penduduk nagri juga sangat besar? Bayangin aja, gaji seorang pengacara yang baru mulai kerja aja bisa mencapai di atas Rp. 100 juta? Bayangin juga jadinya kalo ampir semua orang di nagri—bahkan tukang kuli cucing piring di resto sekalipun—paling nggak punya sebiji kendaraan pribadi roda empat buat dipake kemana-mana.

Nah, kita yang rakyatnya nggak jelas ada di garis kemiskinan (nah lho, udah ada di garis kemiskinan, nggak jelas lagi!), jelas jadinya milih semua benda yang lebih murah dan bahkan semurah-murahnya. Hukum ekonomi kan cuma berbicara kalo sesuatu yang sama bisa didapetin dengan harga yang jauh lebih murah, kenapa musti juga jadi pilih yang mahal?

Conto jelasnya begini. Kalo kita mau ke tukang kaset di pinggiran jalan dan kita ngeliat kaset Ya Tombo ati-nya Bang Opick yang cuman seharga Rp. 5000 perak, bisa jadi kita nggak pikir panjang lagi buat ngebelinya. Kenapa pasal? Karena kita tau harga kaset Bang Opick yang asli yang dijual di konter toko harganya lebih mahal 200 % daripada yang ada di bajakan? Kepikiran kan sekarang gimana murahnya tuh barang bajakan. Diliat dari kualitas dan kemasannya, Sodara, barang bajakan sekarang udah canggih-canggih juga, ampir nggak ada bedanya dengan yang asli. Kalo pun ada, yah cuman beda tipis.

Dari situ aja udah ketemu apa yang bisa bikin kita deket sekali sama barang bajakan. Murah dan kualitas yang nggak jauh berbeda itu. Kita aja yang mungkin udah sedikit ngarti gitu, ngaku deh, sering banget kali nyari barang bajakan, apalagi orang-orang umum yang nggak pernah ngaji, yang masa bodoh aja sama kondisi negara yang makin awut-awutan? Nggak pelak, pembajakan adalah nama tengah dari Indonesia tercinta. Hiks!

Sobat, kita tentu aja udah sadar bener kalo yang namanya barang bajakan itu udah termasuk barang ilegal. Pembajakan tuh nggak ubahnya kayak pencurian. Jadi gimana dong musti ngambil sikap dalam hal ini?

Hmm, untuk memberantas bajakan—bahkan seupiiilll aja, kayaknya sulit banget. Suka heran nggak sih kalo ngeliat berita kemudian diberitakan dengan amat sangat bangga kalo pihak kepolisian udah merazia sekian ratus ribu kaset dan CD bajakan dan memusnahkannya? Kenapa musti heran emangnya? Yah, apa itu nyelesein masalah? Bisa jadi iyak. Tapi mungkin cuman sebentaran aja  kali. Apa pasalnya? Sementara barang raziaan diberantas, eh yang bikin barang-barang bajakan itu malah nggak pernah tersentuh juga. Ibaratnya, ketika ngebenerin rumah yang bocor atapnya, ya jangan cuman di dalem rumahnya atuh. Musti mau naek juga ke atap liat bagian mana yang nggak ada gentengnya.

Nah, maksudnya, ya pemerintah juga (dalam hal ini pihak yang berwajib) musti steril. Nggak ada lagi orang berpangkat yang masuk jajaran pelindung karena disuap… (dan adaw!, …. di Indonesia gitu lho…). Artinya kalo nggak ada yang jadi backing, pasti mudah aja untuk menciduk tuh para dedengkot pembajak.

Dalam hati kita sendiri misalnya kalo udah ngadepin si emang penjual buku bajakan suka dilematis juga kali. Di sisi lain ketika duit cekak juga, eh ngeliat si penjual juga tengah mengais rejeki. Jadinya nggak salah kalo kemudian malah menimbang-nimbang, udah deh ini mungkin rejekinya si pedagang lewat kita. Tapi pikiran kayak begini tentu aja jangan sampe dijadiin prinsip apalagi ditiru… he he he…. Bahaya!

Bro, Undang-undang Hak Cipta secara sejarah Islam awalnya emang belum dikenal, karena umumnya filosofi para penemu dan pencipta termasuk pengarang karya-karya besar dalam Islam hanya bertujuan untuk mendapat ridha dan pahla dari Allah semata. Sama sekali jauh dari tujuan materi dan kekayaan.

Karena itu dalam literatur klasik fiqih Islam, kita nggak mengenal hak cipta sebagai sebuah hak milik yang terkait dengan kekayaan finansial. Justru semakin dibajak atau ditiru akan semakin banggalah dia dan semakin banyak pahalanya, (aneh yak?). Selain itu juga ada rasa kepuasan tersendiri dari segi psikologisnya. Apa yang mereka lakukan atas karya-karya itu jauh dari motivasi materi atawa fulus. Sedangkan untuk penghasilan, para ulama dan ilmuwan bekerja memeras keringat. Ada yang jadi pedagang, petani, penjahit dan seterusnya. Mereka nggak menjadikan karya mereka sebagai tambang uang.

Karena itu kita nggak pernah denger kali kalo Imam Bukhori menuntut seseorang karena dianggap menjiplak hasil keringatnya selama bertahun-tahun mengembara keliling dunia? Bila ada orang yang menyalin kitab shohihnya, maka beliau malah berbahagia. Begitu juga bila Jabir Al-Hayyan melihat orang-orang meniru atawa ngejiplak hasil penemuan ilmiyahnya, maka beliau akan semakin bangga karena udah menjadi orang yang bermanfaat buat sesamanya.

Hak cipta barulah ditetapkan dalam masyarakat barat yang mengukur segala sesuatu dengan ukuran materi. Dan didirikan lembaga untuk mematenkan sebuah  penemuan  dimana orang yang mendaftarkan akan berhak mendapatkan royalti dari siapa pun yang meniru atau membuat sebuah formula yang dianggap ngejiplak.

Kemudian hal itu menjalar pula di tengah masyarakat Islam dan akhirnya dimasa ini, kita mengenalnya sebagai bagian dari kekayaan intelektual yang dimiliki haknya sepenuhnya oleh penemunya.

Berdasarkan `urf yang dikenal masyarakat saat ini, maka para ulama pada hari ini ikut pula mengabsahkan kepemilikan hak cipta itu sebagaimana Ketetapan (Qoror) dari Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami, sebuah forum yang terdiri dari para ulama kontemporer yang bermarkas di Jeddah Saudi Arabia.

Ketetapan (Qoror) dari Majelis Majma` Al-Fiqh Al-Islami menyebutkan bahwa secara umum, hak atas suatu karya ilmiyah, hak atas merek dagang dan logo dagang merupakan hak milik yang keabsahaannya dilindungi oleh syariat Islam. Dan merupakan kekayaan yang menghasilkan pemasukan bagi pemiliknya. Dan khususunya di masa kini merupakan `urf yang diakui sebagai jenis dari suatu kekayaan dimana pemiliknya berhak atas semua itu. Boleh diperjual-belikan dan merupakan komoditi. (lihat Qoror Majma` Al-Fiqh Al-Islami no.5 pada Muktamar kelima 10-15 Desember 1988 di Kuwait).

Namun dalam praktik kesehariannya, ada juga hal-hal yang perlu diperhatikan selain demi kemashlahatan para pemilik hak cipta itu, yaitu hak para konsumen yang ternyata juga terhalang haknya untuk mendapatkan karya yang seharusnya.

Nah, di sini kejadian deh benturan kepentingan dua kubu yang berbeda. Misalnya aja masalah perampasan pematenan hak cipta serta monopoli produk. Kita mulai dengan begini. Inget sama kasus pematenan pembuatan tempe beberapa waktu yang lalu oleh pihak asing? Nah, ini adalah contoh hal yang naif tentang dampak negatif pematenan ini. Bagaimana mungkin tempe yang entah udah berapa generasi menjadi makanan asli orang Indonesia, tiba-tiba aja dipatenkan oleh orang nagri atas namanya? Jadi bila nanti ada orang Indonesia membuat pabrik tempe yang besar dan bisa mengekspor, harus siap-siap diklaim sebagai pembajak oleh mereka. Karena patennya mereka yang miliki.

Jadi setiap satu potong tempe yang kita makan, sekian persen dari harganya masuk ke kantong pemegang paten. Padahal mereka barangkali nggak pernah makan tempe. Dalam kasus seperti ini, bagaimana mungkin kita dikatakan sebagai pencuri hasil karya mereka? Padahal tempe adalah makanan kebangsaan kita, bukan ? Sampe-sampe saking tempe udah begitu akrab di telinga dan entah karena motivasi apa, kita sering menyebut kita ini sebagai bangsa tempe, kan he he he…..

Dalam perkembangan berikutnya, yang perlu dicermati dalam masalah hak cipta dan hak paten ini adalah kecenderungan ke arah monopoli produk. Karena begitu sebuah perusahaan memegang hak paten atas formula produknya, secara hukum hanya mereka yang berhak untuk memproduksi barang tersebut atau ngasih lisensi. Dan otomatis, mereka pulalah yang menentukan harga jualnya. Bila ada orang yang menjual produk yang sama tanpa lisensi dari pihak pemegang paten, maka kepada mereka hanya ada dua pilihan: hidup atau mati! Eh, salah deng,  bayar royalti atau didenda!

Masalahnya timbul bila pemegang paten merupakan perusahaan satu-satunya yang memproduksi barang tersebut di tengah masyarakat dan nggak ada alternatif lainnya untuk mendapatkan barang dengan kualitas sama, padahal barang itu merupakan hajat hidup orang banyak.  Bila pemegang hak paten itu kemudian menetapkan harga yang mencekik dan nggak terjangkau atas barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak, maka jelas telihat unsur kenggak-adilannya. Conto paling shahih tuh, kasus Microsot gitu deh. Dengan kata lain, produsen itu ingin mencekik masyarakat karena mereka nggak punya pilihan lain kecuali membeli dengan harga yang jauh di atas kemampuan mereka.

Lantas, apa kita mau terusin aja punya kebiasaan beli barang bajakan? Bro-Sis, kalo keliatannya kita punya rejeki berlebih, emang sih lebih baik beli barang aslinya. Kalo kurang? Nah itu dia sekali lagi dilematisnya. Coba kita timbang-timbang, apa barang yang akan kita beli itu beneran penting bagi kita atawa nggak? Kita bisa jawab dengan nurani kita yang paling jujur! *** []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s