Disaster Jono

Posted: June 27, 2012 in CERPEN

MALAM ini, memandangi bulan, di dalam hatiku tengah terjadi proses yang begitu meremukan, menggerus semua. Bahwa aku bersumpah, akan di mana hari aku tak akan pernah bisa memberikan maaf untuknya—walaupun dalam bentuk sederhana. Hhh, sungguh berat apa yang kualami ini. Sungguh, siapa berani mengatakan kita telah beriman sedangkan kita belum pernah diberi ujian? Dan Jono, hhh, apa lagi yang bisa kutuliskan lagi tentangmu, ketika kau telah memperlakukanku begitu buruknya? Ibu, menangislah untuk anakmu…..

“Kenapa, Pi?”

Aku menarik nafas. “Aku kan sudah bilang sama kamu berkali-kali… Kamu nggak ngerti juga?”

“Karena jilbab kamu itu? Halah, kamu sok hipokrit….”

Aku memandangi Jono dengan telak, sedikit tersinggung. Aku sudah merasa, percakapanku dengannya kali ini pun sudah tidak memberikan sesuatu yang berarti lagi—sama seperti yang kemarin-kemarin. 

“Yah, terserah kamu sih, Jon…. Kamu juga tau ini bukan sesuatu yang mudah bagiku. Tapi aku musti, Jon…”

“Pia, tapi bukan berarti kamu musti mutusin hubungan kita. Kita udah jadian sekian lama, 4 taon, sejak SMP dulu. Aku, aku jelas sayang kamu, …”

“Sudah, Jon…” aku memotong, “kita nggak mungkin lagi terus berputar-putar di sini. Kamu harus belajar menerimanya, menerima dan atau bahkan menghormati keputusanku…”

“Kamu mengorbankanku…. Itu akibatnya kalo kamu keseringan gaul ama anak-anak mesjid itu…”

Aku menatap Jono makin telak. Bukan karena apa, tapi lebih karena aku membenci kata-katanya yang semakin tidak terkontrol. Sepertinya tidak ada yang bisa kulakukan lagi untuk membuatnya mengerti. “Jon,” ujarku perlahan-lahan, “baiklah…. Aku mungkin sudah harus mengatakan ini kepadamu,…”

“Tapi, Pia….”

“Dengarkan aku dulu….. Kamu juga harus tahu ini berat bagiku. Tidak mudah ngeliat kamu tiap hari seperti ini, malah aku berpikir ingin pindah kelas aja, supaya nggak bisa ngeliat kamu seperti ini. Gimana-gimana juga, kita pernah deket. Tapi tolong Jon, begitu mahal dan panjang yang udah aku lakukan untuk bisa sampai ke titik ini…”

“Jadi ceritanya kamu tobat begitu…?”

“Ih, kamu makin ngaco deh Jon…. Aku cuma ngerasa apa yang kita lakukan selama itu adalah sebuah kesalahan. Susah ngomong sama kamu tentang hidayah…. Jon, ktia dulu pernah memulai hubungan kita yang salah itu dengan baik-baik, dan aku sudah berniat baik berusaha untuk ngebaik-baikin kamu untuk menyudahinya, tapi kamu selalu aja nggak ngerti dan nggak terima….”

Jono kali ini tidak berkata. Ia balik memandangiku dengan tajam. “Kamu tau, Pia….”

Aku terdiam, menarik nafas. Ruangan kelas yang kosong makin sunyi.

“Kamu, hidayah kentutmu…..!”

Jono beranjak, meninggalkanku. Ia membanting kursi yang didudukinya. Ia pun melakukan hal yang sama dengan pintu kelas. Aku beristighfar berkali-kali. Setitik air mata mulai jatuh ke pipi, dan sementara aku mulai menguatkan hati. Ini bukan apa-apa, walau itulah pertama kali Jono bersikap kasar kepadaku. Dan sejak hari ini, aku tahu ya Allah, bahwa hari-hari di kelas ini tak akan pernah lagi ramah dan mudah bagiku. Tapi jika itu harga yang harus kubayar atas begitu banyak kesalahan dan kesenangan pribadi yang tak tentu arah yang dulu kulakukan, maka itu semua memang sudah kupersiapkan.

Suara telefon itu membangunkan tidur siangku. Siapa gerangan? Kemana orang-orang yang lain di rumah? Ketika aku sampai di ruangan tengah, kulihat mama sudah ada di sana juga. “Maaf, tadi mama lagi tanggung masak…. Ini dari Jono…”

Aku menggeleng lemah. Aku merasa malas mendengar namanya.

“Mau terima atau tidak?” Tanya mama.

“Yah….”

“Pia, tidak baik begitu. Setidaknya kamu harus tetap bersikap baik pada orang, seburuk apapun orang memperlakukanmu…”

“Tapi, ma…”

“Baik kalau kamu tidak mau menerimanya…”

Aku tersenyum. Setelah mendengar mama mengatakan aku sedang tidak ingin menerima telefon, aku kembali berbalik ke kamar. Membaringkan diri, menerawang, aku tidak bisa tidur lagi. Hah Jono, kenapa kamu begitu picik dan kerdil? Sekarang, aku mendengar bahwa Jono dengan terang-terangan tengah mendekati Reza, teman sekelas kami yang banyak dianggap sebagai bintang kelas.

HP di meja belajar berdering. Aku sudah menduga itu Jono, dan memang benar. Merasa tidak punya pilihan lagi, akhirnya aku mengangkatnya. “Halo?”

“Pia, please deh, aku, aku butuh bantuanmu sekarang… Pi…”

Aku terdiam.

“Aku, aku… aku ngerasa nggak tentu arah, Pi…. Aku ngerasa hidupku nggak berarti lagi…. Aku cuman mau ngucapin selamat tinggal aja sama kamu….”

“Hah, Jono…. maksud kamu…., kamu di mana sekarang…?”

“Nggak penting lagi bagi kamu, Pi…. Aku teramat mencintaimu, aku kehilangan kamu, sangat….”

“Jon, kamu nggak sedang…. Macam-macam kan?”

Terdengar suara mendengus sekarang, “Hmm, apa bedanya buat kamu? Toh, kamu bukan siapa-siapa lagi….”

“Jono, ya Allah…” aku mulai panik, aku sebenarnya tidak merasa yakin dengan apa yang kutangkap, tapi sepertinya anak itu benar-benar nekad…

“Kamu mau ke sini dulu, Pi…? Ke rumahku? Aku, aku…. Aku…..” Jono menutup telefonnya.

Aku mengerutkan kening. Tanpa sempat berpikir lagi, aku segera meraih jilbabku dan tergopoh-gopoh meraih semua peralatan yang biasa kubawa pergi. Ketika melewati mama, aku hanya sempat berkata, “Ma, pergi dulu…” dan mama hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Jono mau bunuh diri, itu sepertinya. Ya Allah, betapa cengengnya anak lelaki itu. Hanya karena cinta. Ya Allah, betapapun yang akan dia lakukan, sesungguhnya tak akan pernah bisa menukarnya lagi dengan apa yang sudah kupilih sekarang: mengenaliMu itu.

Sepanjang perjalanan, sebisa mungkin aku mengucapkan doa dan dzikir apa saja yang kubisa yang memang tidak banyak yang kuhafal.

Sesampai di rumah Jono, suasana hening. Tapi pintu depan terbuka. Aku mengucapkan salam. Tidak terdengar jawaban. Tapi kemudian, Jono sendiri yang keluar, “Eh, Pia…. Kirain nggak datang…..”

Aku merasa mulai ada yang tidak beres. Saat itu tiba-tiba dari dalam muncul Reza, diikuti oleh beberapa gengnya yang lain. Aku terperanjat, nyaris tercekik. Sedang apa ia dan temen-temennya di sini…?

Jono menggandeng bahu Reza, begitu mesranya, aku terus-terang mau muntah melihatnya, karena begitu tak nyaman melihat pemandangan itu.

“Tuh kan Reza, aku kan sudah bilang, kamu sih nggak percaya aja…. Pia ini nggak pernah bisa ngelupain aku, ia selalu pengen aku balik lagi sama dia, tapi kan aku juga sudah bilang sama dia, aku sudah memilih kamu jadi pacarku….”

Ya Allah, aku merasa langit runtuh menimpaku!

By : Abu Umar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s